Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Selama tiga dasawarsa terakhir, banyak komentator politik menganggap bahwa Amerika Serikat terbagi dua antara “kanan religius” dan “kiri sekuler”. Orang-orang yang pergi ke gereja, menurut gambaran media, ialah orang-orang yang anti-gay dan anti-feminis; mereka lebih menyukai kedermawanan pribadi daripada kesejahteraan publik; mereka mengibarkan bendera ketika Amerika Serikat mengirim pasukan ke luar negeri. Sebaliknya, orang-orang liberal digambarkan sebagai elit-elit kota-besar yang meremehkan doa yang penuh-perasaan, bahkan tak mau mengucap “Selamat Natal” secara ramah atau pun “Tuhan memberkati Amerika” secara patriotik.

Akan tetapi, orang-orang Universalisme Tauhid seringkali merasa berada di luar gambaran tersebut–dan begitu pula orang-orang Katolik Roma yang mempedulikan kemiskinan dan orang-orang Protestan yang mengkhawatirkan pemanasan global. Dengan banyak cara, gambaran tersebut mencerminkan pandangan keduniaan tentang gerakan politik yang tegas baru-baru ini, yaitu kanan-religius, yang menganggap bahwa siapa pun yang mempertanyakan literalisme [tekstualnya makna kata-kata] injil merupakan seorang sekularis yang putus asa. Namun kita pun yang berada di luar gambaran tersebut juga jarang mempertanyakan kebenarannya.

Lanjut membaca

Jangan Biarkan Anak-anak Kita Menjadi Teroris!

kover buku Acts of FaithApakah para teroris “religius” itu menjadi teroris secara tiba-tiba? Tidak! Ada proses tertentu yang dilalui sebelum mereka menjadi teroris. Kalau kita mengenali proses tersebut, maka kita dapat menduga orang manakah atau kelompok manakah yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi teroris. Kemudian jika kita mengenali proses ini, maka kita dapat melakukan tindakan pencegahan agar mereka tidak berubah menjadi teroris.

Proses tertentu itu dijelaskan dalam buku Acts of Faith karya Eboo Patel. Di bawah ini saya sampaikan terjemahan bagian Pendahuluan (Introduction) buku tersebut.
Lanjut membaca

Titik Temu antara Islam dan Universalisme Tauhid

Dalam Islam, kaum muslimin telah mencari Tuhan secara historis. Kitab suci mereka, Al-Qur’an, memberi mereka suatu misi historis. Tugas utama mereka adalah menciptakan masyarakat yang adil yang secara mutlak menghargai semua warga, termasuk yang lemah dan rentan. … Pengalaman membangun masyarakat semacam itu dan pengalaman hidup di lingkungan seperti itu akan memberi mereka [rasa] kedekatan ilahi. … Setiap muslim harus bersifat historis. Maksudnya, urusan negara tidaklah jauh dari spiritualitas, tetapi [bahkan merupakan] salah satu bagian dari agama itu sendiri. Bagi mereka, kesejahteraan umat Islam merupakan urusan terpenting secara politik.

Lanjut membaca

Manakah agama damai & agama kekerasan?

Untuk apa kita bicarakan agama damai & agama kekerasan?

oleh Jeff Wilson

Ellawala Medhananda yang terhormat, seorang pendeta Buddha Srilanka terkenal, berkata dengan terus terang. Saat berbicara dengan Reuters pada Februari [2006], ia nyatakan: “Kalau Prabhakaran tewas, Sri Lanka menjadi tempat yang lebih baik. Ia menghambat proses perdamaian. Kita seharusnya mencampakkan pengaruhnya dari masyarakat.”

Medhananda, pemimpin partai politik Buddhis nasionalis, menyerukan pembunuhan terhadap Velupillai Prabhakaran, seorang pemicu utama konflik etnik dan keagamaan yang telah menewaskan lebih dari 60.000 orang di Sri Lanka. Menurut sejumlah orang, Prabhakaran ialah seorang teroris Hindu yang mengancam demokrasi Sri Lanka; namun menurut sejumlah orang lainnya, dia seorang pejuang kemerdekaan yang berupaya mencapai keadilan untuk kaum minoritas Tamil yang tertindas. Sementara itu, dengan adanya [ancaman] pembunuhan dari kalangan muslim [terhadap orang-orang yang harus bertanggung jawab atas] kartun [yang dipandang melecehkan Nabi Muhammad], sekarang mungkin saat yang tepat untuk merenungkan “debat kusir” seputar kekerasan dan agama di dunia modern.
Lanjut membaca

Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Dari Islam ke Universalisme Tauhid

oleh Hafidha Acuay

Sebagaimana hampir semua wanita yang menceritakan kisah mereka di [buku] Living Islam Out Loud: American Muslim Women Speak, saya belum secara sungguh-sungguh mempersoalkan agama yang diajarkan kepada saya sampai masa remaja-akhir saya. Dulu, saya seorang Islam yang taat. Pengalaman saya mirip dengan Samina Ali, yang menulis: “Saya dan teman-teman wanita saya berbincang-bincang dengan serius mengenai betapa beruntungnya kami terlahir dalam agama kami, karena semua orang di luar sana terlahir ‘buta’ dan lantaran pilihan mereka sendiri akan mati dalam keadaan ‘buta’.”

Masa kanak-kanak saya indah. Sedangkan masa remaja saya, walau terkadang merasa kesepian dan depresi, penuh dengan impian. Namun di masa dewasa-awal, ketika saya menjadi terbuka terhadap semakin banyak orang Islam dan terhadap munculnya aliran Islam yang keras yang dikenal sebagai Wahhabisme di Amerika Serikat, hati saya mulai tertusuk dan semakin tertusuk.
Lanjut membaca

Gereja adalah orang-orang (oleh Janet H. Bowering)

Gereja adalah orang-orang. Ia bukanlah sebuah badan keyakinan, seperangkat prinsip, atau pun susunan batu, kayu, dan kaca yang mengesankan. Gereja memiliki akar-akarnya di masa lalu, tak peduli seberapa-baru jemaatnya dikelola. Gereja itu menunjukkan suatu proses panjang orang-orang yang berkehendak bekerja dengan orang lain menuju tujuan bersama, beribadat dengan orang lain yang berkepercayaan serupa, dan memuliakan orang-orang terdahulu yang bijaksana dan pemberani.

Lanjut membaca

Uniknya agama Universalisme Tauhid

Robert Fulghum

Robert Fulghum

Berikut ini bagian dari percakapan di sebuah toko [yang melibatkan seorang pemuka agama Universalisme Tauhid]:

“Pak Fulghum, benarkah Anda seorang pendeta?”

“Ya.”

“Di manakah gereja Anda?”

“Kita sedang berdiri di dalamnya.”

“Tapi ini toko buku dan sekarang hari Jumat.”

“Ya, tetapi bisa pula Anda menganggapnya sebagai katedral spirit manusia — sebuah rumah-toko pengabdian bagi semua pengalaman manusia yang beraneka-macam. Hampir semua gagasan hebat manusia ada di sini. Tempat yang mengandung pemikiran hebat merupakan tempat suci.”

“Oh, ya? Anda ini pendeta dari aliran agama apa?”

“Universalisme Tauhid (Unitarian Universalism).”

“Dan Anda mengadakan kebaktian di tokobuku-tokobuku pada hari Jumat?”

Lanjut membaca

Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani

Belajar dengan Hati Nurani — Sophia Lyon Fahs

Sophia Lyon Fahs

Sophia Lyon Fahs


oleh Polly Peterson

“Mama, Mama, kapan kita sampai di tujuan?” tanya Sophia kecil. Bersama dengan keluarganya, ia melintasi luasnya Samudera Pasifik di atas sebuah kapal besar yang berlayar ke Amerika. Sophia Lyon, si gadis Amerika yang saat itu berumur tiga setengah tahun, menempuh perjalanan ke Amerika untuk pertama kalinya. Ia dan kakak-kakaknya lahir di China, tempat yang di situlah ayah mereka menjadi pendeta Kristen evangelis dan ibu mereka menjadi pendiri sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan China.

Lanjut membaca