Muslim baik adalah manusia buruk; benarkah?

Berikut ini kutipan diskusi di Facebook kemarin antara dua orang: SA dan MM. Intinya, SA menuduh bahwa Islam itu salah dan buruk, tetapi MM menunjukkan bahwa tuduhan tersebut hanya berdasarkan asumsi dan persepsi, bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya. Kami mengutipnya secara utuh tanpa sensor.

SA: Untuk jadi manusia yang baik, Anda hanya perlu menjadi muslim yang buruk. Untuk menjadi manusia yang buruk, Anda hanya perlu menjadi muslim yang baik.

MM: Islam adalah istilah. Sebagaimana istilah lain, maknanya berubah sedikit/banyak dalam dimensi waktu, bahkan juga dalam dimensi ruang. Tapi kita sering menyalahkan suatu istilah yang didefinisikan secara berbeda. Jika perbedaan ini tidak disadari, apa sih yang sebenarnya kita salahkan?

SA: Islam hanyalah istilah untuk orang2 yang percaya bahwa omongan orang Gila padang pasir harus dipercaya hanya karena banyak orang yang mempercayainya.

MM: Hikmah bisa keluar dari mulut siapa pun, bahkan juga dari orang gila sekalipun. Yang lebih penting dari APA yang dikatakan/dilakukan orang adalah BAGAIMANA kita mengambil hikmah darinya.

SA: Apalagi yang mau dijelaskan oleh seorang muslim yang humanis?
Anda adalah orang baik, dengan begitu Anda adalah muslim yang buruk, Anda tidak menjalankan ajaran Islam dengan baik. Cukup sampai pada al-Qur’an ukurannya. Seberapa patuh Anda pada ayat-ayat di dalamnya?

MM: Baik menurut siapa? Buruk menurut siapa? Siapakah yang berhak menilai baik-buruknya?

SA: Ukuran baik buruknya adalah Qur’an… Anda tidak bisa mengelaknya. Yang menilai adalah akal sehat, yang juga biasa disebut dengan hati nurani.
Kebenaran bukanlah sekedar PERASANGKA BAIK pada sesuatu yang buruk. Kita harus katakan buruk pada yang buruk, baik pada sesuatu yang baik.

MM: Di zaman Rasul, tak jarang para shahabat salah paham thd Quran & Sunnah. Lalu siapakah sekarang yg takkan salah paham, sedangkan kita terpisah jauh oleh ruang & waktu? Kalau “al-Qur’an” ukuran baik-buruknya, itu menurut pembacaan siapa? Apa tak mungkin salah paham?

SA: Kenapa mereka salah paham MM? lalu ayat apa yang menjadikan mereka salah paham?
Apakah karena ayat-ayat yang kontradiktif, yang menyatakan “tidak ada paksaan dalam Islam” yang sangat bertentangan dengan “perintah untuk membunuh mereka yang tidak mau masuk Islam”?

Seharusnya ayat Tuhan mudah dipahami oleh manusia dan sesuai dengan akal sehat manusia sehingga bisa diamalkan dengan baik. Tetapi Muslim mau mengakui kumpulan ayat kocak untuk dijadikan pedoman hidup?

MM: Penyebab kesalahpahaman manusia terutama bukan pada objeknya, melainkan pada pengamatnya. Ini lantaran ketidaksempurnaan manusia dlm mempersepsi segala sesuatu. Jangankan thd kata2 yg sudah bergaung ratusan tahun. Terhadap kata2/sikap sang kekasih yg terkadang terlihat kontradiktif pun kita gampang salah-paham.

SA: Jangan anggap semua manusia berotak sedungu otak para sahabat. Kebenaran ada pada ucapan dan perbuatan. Ayat untuk membunuh kafir terdapat dalam Qur’an, dan sejarah mengatakan bahwa hal itu terjadi dan dilakukan oleh Muhammad dan para jihadist muslim. Itu Faktanya. Anda dituntut untuk memakai akal sehat untuk menilai hal itu. Dan ketika Islam dinilai dengan akal sehat (BERPIKIR), maka perbuatan MEMBUNUH MANUSIA adalah perbuatan yang SALAH.

SA: Perbuatan MUSLIM bukanlah ukuran kebenaran ISLAM.
ISLAM adalah PERBUATAN dan UCAPAN MUHAMMAD.

MM: Ketidaksempurnaan manusia dlm mempersepsi segala sesuatu itu bukan hanya fenomena zaman dulu. Sekarang pun begitu. Bahkan juga pada orang jenius sekalipun. Bukti ilmiahnya berlimpah, terutama dalam sebuah sains baru yg disebut Cognitive Science.

SA: Anda tidak perlu memberi contoh bentuk interpretasi seseorang. Untuk memahami Islam Anda hanya perlu menjawab satu pertanyaan; “Apakah Membunuh Kafir itu perbuatan yang baik?”
Setelah menjawab pertanyaan tersebut, Anda bisa melanjutka diskusi dengan baik. Bukannya nylemot dan sekedar beretorika.

MM: Saya langsung ke inti permasalahan: ketidaksempurnaan manusia dlm mempersepsi segala sesuatu. Saya berkata begitu karena tadi Anda bertanya “mengapa mereka salah paham”. Saya sudah menjawab pertanyaan Anda, tp Anda belum menjawab pertanyaan saya. Maaf kalau jawaban saya tidak memuaskan.

MM: Inti pertanyaan saya: apakah Anda tidak pernah salah paham dalam mempersepsi segala sesuatu?

SA: Apakah pantas disebut sebagai FIRMAN TUHAN, kalau bunyinya adalah sesuatu yang membingungkan dan tidak bisa diterima oleh akal sehat?

SA: Anda butuh persepsi untuk menafsirkan sebuah ayat, atau ungkapan. tapi Anda tidak perlu ilmu yang banyak untuk menilai suatu perbuatan. MEMBUNUH ORANG adalah perbuatan yang TIDAK BENAR.
Anda mengakui itu, hanya saja Anda masih tidak mau mengakui kalau ISLAM lah yang mengajarkan hal itu. padahal sejarah berkata demikian.
Anda hanya butuh akal sehat, bukan persepsi. MEMBUNUH KAFIR ITU SALAH menurut AKAL SEHAT.
Kecuali kalau Anda tidak menggunakannya

MM: Sejauh ini, kritik Anda tertuju kepada persepsi Anda ttg Islam. Kembali ke pertanyaan inti: Apakah Anda tidak pernah salah paham dalam mempersepsi segala sesuatu?

SA: Faktanya adalah Anda tahu bahwa Islam SALAH, tapi tidak mau mengakuinya.

SA: Pertanyaan Anda tsb tidak berarti sama sekali. karena kebenaran tidak diukur dari persepsi, melainkan FAKTA.
Sekali Lagi FAKTA. Sedangkan pertanyaan Anda bukan mengenai hal itu, melainkan tentang PERSEPSI.
Sehingga nilai pertanyaan Anda sama dengan pertanyaan “Apakah Anda tadi sudah makan sebelum menulis komentar ini?”

Sama sekali tidak berpengaruh pada kekuatan argumen.

SA: Kritik saya tidak didasarkan pada persepsi, tapi FAKTA-FAKTA yang ada.

MM: Kalau Anda tidak pernah salah paham dalam mempersepsi segala sesuatu, barulah Anda berhak menyatakan bahwa yang Anda katakan semua itu fakta. Namun karena ternyata Anda pernah (entah berapa kali) salah paham, maka yang Anda katakan itu baru sebatas persepsi yang mungkin saja benar, tapi juga MUNGKIN SAJA SALAH.

MM: Ketika persepsi-persepsi terhadap fakta berlainan, yang dilakukan oleh manusia-manusia yg tidak sempurna dlm mempersepsi, manakah fakta SEJATI?

SA: Berarti Anda tidak percaya pada sejarah yang mengatakan bahwa Muhammad Pernah membunuh kaum yahudi di Medinah, Mengawini anak 9 tahun Aisyah, dan memperbudak wanita dan anak-anak. Seharusnya Anda juga tidak percaya pada isi Qur’an. kalau sudah begitu, apa yang perlu dibahas. Tidak ada yang perlu didiskusikan dengan orang skeptis.

SA: Sejauh ini Anda tidak bisa membuktikan bahwa Islam bukan ajaran buruk.

SA: Seribu argumen Anda hanya bisa saya jawab dengan satu pernyataan, “Bahwa membunuh orang, seperti yang dilakukan Muhammad, merupakan pelanggaran HAM.” Silahkan bantah pernyataan ini, (kalau bisa).

MM: Saya bukan penganut skeptisisme. Saya lebih cenderung kepada UUism. Bagi kami, yang lebih penting dari APA yang sebenarnya terjadi adalah BAGAIMANA kita mengambil hikmah darinya. Untuk apa memperdebatkan apa yang sebenarnya terjadi apabila manusia tidaklah sempurna dlm mempersepsi segala sesuatu? Lagipula, Anda sendiri mengakui KETIDAKSEMPURNAAN MANUSIA, setidak-tidaknya pada diri Anda sendiri, dlm mempersepsi segala sesuatu. Bagi saya, pengakuan ini sudah cukup. Terima kasih atas diskusinya. Wassalam.

SA: Ketidaksempurnaan manusia sama sekali tidak membenarkan perbuatan MEMBUNUH yang dilakukan oleh Muhammad. Jangan jadikan ketidaksempurnaan sebagai alasan untuk membenarkannya. Cukuplah akui hal tsb sebagai yang SALAH, tapi kenapa Anda masih tidak bisa mengakuinya?

Hikmah bisa diambil dari hal terburuk sekalipun, tapi itu tidak merubah hal yang tadinya buruk menjadi hal yang baik.
Mengambil hikmah dari hal buruk dilakukan oleh Muslim yang humanis (manusia baik), seperti Anda. Tapi itu sama sekali tidak merubah nilai dari pada Islam itu sendiri.

MM: Waduh, saya sudah pamit baik2, kok masih diajak diskusi. –Begini tambahan jawaban dari saya. Saya mengakui kesalahan sesuatu apabila memang benar2 salah. Namun, saya takkan menganggapnya salah apabila ada kemungkinan bahwa itu tidak sepenuhnya salah. Dalam kasus kita, kemungkinan ini terbuka lebar mengingat ketidaksempurnaan manusia dalam mempersepsi SEGALA SESUATU, termasuk mempersepsi apa yang sebenarnya merupakan Islam. Wassalam.

SA: Karena Anda belum bersedia mengakui kesalahan Islam, maka diskusi ini belum tuntas. Lalu apa persepsi Anda tentang Pembunuhan yang dilakukan Muhammad? Adakah sesuatu yang bisa menjelaskan bahwa pembunuhan tersebut tidak SALAH?

MM: Tadi sudah saya katakan, “Penyebab kesalahpahaman manusia terutama bukan pada objeknya, melainkan pada PENGAMATnya. Ini lantaran ketidaksempurnaan manusia dlm mempersepsi segala sesuatu. …” Wassalam.

SA: Itu bukan jawaban. Itu hanya cara Anda menghindar untuk menjawab. MEMBUNUH adalah Perbuatan SALAH. Anda harus menerima ini. Anda tidak memelintirnya menjadi tidak salah.

MM: Masih belum jelas? Postingan Anda bukan mengenai apakah membunuh itu salah ataukah tidak. Postingan anda adalah kritikan bahwa Islam itu salah, dengan asumsi bahwa Islam mengajarkan pembunuhan. Namun, Anda tidak bisa memastikan bahwa Islam memang mengajarkan pembunuhan. Anda tidak bisa memastikannya lantaran ketidaksempurnaan Anda dalam mempersepsi data-data sejarah mengenai Islam. Wassalam.

SA: Semakin data-data mengenai dibuka, justrun akan semakin menunjukkan keburukan Islam.
Postingan saya bukan hanya mengatakan bahwa Islam itu jelek. Lebih tepatnya adalah ketika Anda mengamalkan isi Al-Qur’an dengan baik, sesuai perintah Muhammad, maka Anda adalah seorang Muslim yang baik, sekaligus juga menjadi manusia yang buruk. Karena ajaran Muhammad adalah ajaran buruk.
Asumsi bahwa Muhammad adalah seorang PEMBUNUH bukan satu-satunya hal yang memperkuat Argumen saya ini, karena masih terlalu banyak ajaran buruk Islam yang lain. Namun, untuk membantah aspek PEMBUNUHAN saja Anda tidak bisa. Yang terlihat hanya retorika Anda untuk mengalihkan pembicaraan lugas.

Dalam Qur’an Anda bisa menemukan ayat yang pembunuhan, dan sejarah mengatakan bahwa Muhammad adalah pembunuh sekaligus perampok. Ini bukan saja diambil dari Qur’an melainkan hadist riwayat banyak perowi. Lalu apakah data-data itu tidak bisa Anda terima?

MM: Fakta 1: Anda tidak bisa memastikan bahwa Islam memang mengajarkan pembunuhan. Fakta 2: Anda tidak bisa memastikannya lantaran ketidaksempurnaan Anda dalam mempersepsi data-data sejarah mengenai Islam. Lalu Anda berpaling ke “sejarah”. Sayangnya, Anda hanya menengok sejarah yang “mengatakan bahwa Muhammad adalah pembunuh sekaligus perampok”. Padahal, sejarah itu ada BANYAK VERSInya. Versi manakah yang benar? Lagi-lagi kita kembali ke fakta mendasar: Anda tidak bisa memastikannya lantaran ketidaksempurnaan Anda dalam mempersepsi data-data sejarah mengenai Islam.

MM: “Lalu apakah data-data itu tidak bisa Anda terima?” Sekali lagi saya ingatkan, “Penyebab kesalahpahaman manusia terutama bukan pada objek [atau data]-nya, melainkan pada PENGAMATnya. Ini lantaran ketidaksempurnaan manusia dlm mempersepsi segala sesuatu. …” Wassalam.

Diterbitkan oleh

Jerami Community

a congregation of Unitarian Universalist Muslims using Indonesian language

7 tanggapan untuk “Muslim baik adalah manusia buruk; benarkah?”

  1. Sejarah adalah “tafsiran terhadap fakta-fakta dari peristiwa masa lalu, bukan masa lalu yang sesungguhnya”.

    “All history is subjective.” (Jika hadits merupakan sejarah, maka hadits pun subjektif.)

    1. Waw. Seminggu saya absen dari forum JUTI dan baru tau telah berwajah baru JERAMI. Diskusi diatas jelas menunjukkan MM ngheles aja. SA sudah mengatakan itu sesuai ayat dalam Qur’an masih dibilang tak ada bukti. SA memang tak menunjukkan ayat.
      Menurut saya bagi kaum intelektual isi buku termasuk kitab suci gak perlu dikutip krn terlalu serius. Cukuplah kalau memang ayat itu ada diakui bersama. Forum ini yang berwarna romantisme gak usah dikaburkan dengan kesan seriusan yang bikin botak.

      Salam kangen dari Pangeran Idiot yng seminggu bertapa di gunung Kidul.

  2. kesalahpahaman manusia… tidakkah anda pernah berpikir orang zaman dulu itu yang suka salah paham? makanya mereka menciptakan agama dari hasil khayalannya atau ambisinya berkuasa.

    kenapa kesalahpahaman agama selalu ditafsirkan sebagai kesesatan pengikutnya dan pengkritiknya? aneh juga. nga ada yg berpikir bahwa agama adalah bentuk kesalahpahaman manusia di masa lampau…
    mengapa tak ada yg berpikir bahwa agama itu sendiri yg justru menjadi bentuk kesesatan manusia ?

    mungkin kita meski juga belajar menghormati ajaran Gereja Setan, NAZI, atau Klu Klux Klan ? mungkin kebejatan pengikutnya itu adalah salah tafsir ?
    haha! banyak alasan!

  3. Fakta muslim baik itu digembleng dan didoktrin di pesantren. Merteka menjadi fanatis yang bersikap tak bersdahabat dengan kaum kafir, sesuai ajaran islam. Kan begitu…

  4. Apa yg terlihat tidak selamanya fakta, pikiran kita sangat kuat menerima KESAN, padahal KESAN tidak selamanya fakta, ada miss link hal-hal yg tidak kita ketahui dan itu tertutup oleh kesan.

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s