Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Selama tiga dasawarsa terakhir, banyak komentator politik menganggap bahwa Amerika Serikat terbagi dua antara “kanan religius” dan “kiri sekuler”. Orang-orang yang pergi ke gereja, menurut gambaran media, ialah orang-orang yang anti-gay dan anti-feminis; mereka lebih menyukai kedermawanan pribadi daripada kesejahteraan publik; mereka mengibarkan bendera ketika Amerika Serikat mengirim pasukan ke luar negeri. Sebaliknya, orang-orang liberal digambarkan sebagai elit-elit kota-besar yang meremehkan doa yang penuh-perasaan, bahkan tak mau mengucap “Selamat Natal” secara ramah atau pun “Tuhan memberkati Amerika” secara patriotik.

Akan tetapi, orang-orang Universalisme Tauhid seringkali merasa berada di luar gambaran tersebut–dan begitu pula orang-orang Katolik Roma yang mempedulikan kemiskinan dan orang-orang Protestan yang mengkhawatirkan pemanasan global. Dengan banyak cara, gambaran tersebut mencerminkan pandangan keduniaan tentang gerakan politik yang tegas baru-baru ini, yaitu kanan-religius, yang menganggap bahwa siapa pun yang mempertanyakan literalisme [tekstualnya makna kata-kata] injil merupakan seorang sekularis yang putus asa. Namun kita pun yang berada di luar gambaran tersebut juga jarang mempertanyakan kebenarannya.

Pada 2008, pemilihan presiden A.S. memudarkan gambaran tersebut. Barack Obama, mantan aktivis komunitas berbasis-agama dengan latar belakang inspiratif tentang peralihan agamanya ke Kristiani, dipilih dengan dukungan yang antusias dari para mahasiswa agnostik, environmentalis penyembah-dewa, Protestan Amerika keturunan Afrika, dan orang-orang Katolik beretnis Latin, belum lagi sebagian besar dari Katolik berkulit putih dan hampir setengah dari Protestan berkulit putih. Kampanyenya membuat orang-orang Amerika mengenal khotbah Pdt. Jeremiah Wright yang berapi-api tentang pemberdayaan orang-orang berkulit-hitam, environmentalisme Richard Cizik yang evangelis, dan perpaduan yang aneh dari Pdt. Rick Warren antara dukungan terhadap penelitian AIDS dan tolakan terhadap pernikahan gay. Kita juga menyaksikan kesetiaan semi-religius yang berlimpah terhadap Obama itu sendiri. Jelasnya, hubungan antara agama dan politik tidaklah seperti yang pernah terlihat [akhir-akhir ini].

Namun dari sudut pandang historis, semuanya itu kembali ke biasanya. Kendati menonjol akhir-akhir ini, gerakan kanan-religius itu baru berumur tigapuluh tahun, sedangkan gerakan kiri-religius memiliki jejak lebih dari dua abad. Pada setiap generasi, orang-orang beragama mengerahkan jiwa-raga mereka demi kemerdekaan manusia, kesetaraan ras dan gender, solidaritas ekonomik, dan kedamaian global. Orang-orang Katolik dan Calvin, orang-orang evangelis dan liberal secara teologis, para penganut spritualitas pribumi dan para pendatang dari setiap agama, semuanya telah memperluas wawasan yang mendasar tentang Revolusi Amerika bagi segenap rakyat.

Sesungguhnya, hampir mustahil memisahkah kiri “religius” dari kiri “sekuler” dalam sejarah A.S. Orang-orang Amerika merupakan masyarakat yang paling religius di dunia, dan kita membawa berbagai kesalehan bagi gerakan-gerakan perubahan sosial. Sebagian pembaharu keagamaan mematahkan ikatan mereka dengan gereja-gereja bukan karena mereka kehilangan iman kepada Tuhan, melainkan karena mereka yakin bahwa gereja-gereja itu kurang beriman terhadap keadilan ilahi. Sebagian pembaharu lainnya masih di gereja-gereja, tetapi mengambil inspirasi dari sumber-sumber nonreligius. Organisasi-organisasi yang pura-pura sekuler, seperti Industrial Workers of the World pada peralihan abad keduapuluh dan komunitas-komunitas hippie pada 1960-an, mengklaim hubungan kekeluargaan dengan “Sdr. Yesus” dan mengembangkan ritual mereka sendiri untuk menguatkan iman secara mendasar.

Partisipasi Unitarian dan Universalis dalam gerakan kiri-religius itu berkisar dari tulisan-tulisan feminis Judith Sargent Murray pada 1790-an hingga kampanye terkini kita berupa “berdiri di sisi cinta” (stand on the side of love) terhadap keluarga-keluarga imigran dan kaum gay, lesbian, biseksual, dan transgender. Namun kita sering salah paham mengenai posisi kita dalam gerakan ini. Ada banyak dari kita yang mengalami agama liberal dan politik radikal sebagai saling menguatkan, tetapi keduanya berbeda secara logis. Orang-orang Universalis Tauhid cenderung menganut teologi yang liberal, tetapi sebagiannya telah menjadi ortodoks dalam teologi mereka walau sama-sama mengambil posisi yang moderat atau konservatif tentang masalah-masalah sosiopolitik, seperti kebanyakan orang-orang kiri-religius lainnya, dari John Brown sampai Dorothy Day. Kesadaran yang lebih luas tentang beranekaragamnya teologi orang-orang kiri-religius itu dapat membantu para aktivis Universalis Tauhid membangun persekutuan-persekutan yang lebih efektif.

————
*Diterjemahkan oleh M Shodiq Mustika dari artikel Daniel McKanan, “The religious left” dalam majalah UU World, Winter 2009.

Diterbitkan oleh

Jerami Community

a congregation of Unitarian Universalist Muslims using Indonesian language

4 tanggapan untuk “Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*”

  1. Tidak bisa dipungkiri bahwa agama jika ditempatkan secara benar (secara sekuler) akan memberikan dampak positif lebih banyak ketimbang jika dia dijadikan patokan bernegara..
    Amerika juga punya sejarah buruk tentang Kru Klux Klan, yang membawa2 agama dan ras dalam aksi diskriminasinya..

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s