Liberalkah Anda selaku muslim?

Bahwa saya dicap liberal, JIL tulen, dsb, sudah lama saya mengalaminya. Selama ini saya tidak peduli. Bahwa JIL dinilai sesat, saya juga tak peduli. Toh itu hanya label yg disematkan oleh sesama manusia, bukan oleh Sang Mahabenar. Kalau sekarang saya mengulasnya, ini semata-mata untuk mawas diri, untuk kepentingan saya sendiri selaku seorang muslim universalis. (Syukur-syukur kalau ada pembaca yang bisa mengambil hikmah dari sini.)

Untuk patokan, walau mungkin kurang akurat, akan saya gunakan 14 kriteria dari artikel “Kesesatan JIL” yang katanya ditulis oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub, MA.

1a. Pemikiran JIL: “Umat Islam tidak boleh memisahkan diri dari umat lain, sebab manusia adalah keluarga universal yang memiliki kedudukan yang sederajat.”

Pemikiran saya berbeda: Lanjutkan membaca Liberalkah Anda selaku muslim?

Muslim baik adalah manusia buruk; benarkah?

Berikut ini kutipan diskusi di Facebook kemarin antara dua orang: SA dan MM. Intinya, SA menuduh bahwa Islam itu salah dan buruk, tetapi MM menunjukkan bahwa tuduhan tersebut hanya berdasarkan asumsi dan persepsi, bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya. Kami mengutipnya secara utuh tanpa sensor.

Lanjutkan membaca Muslim baik adalah manusia buruk; benarkah?

Titik Temu antara Islam dan Universalisme Tauhid

Dalam Islam, kaum muslimin telah mencari Tuhan secara historis. Kitab suci mereka, Al-Qur’an, memberi mereka suatu misi historis. Tugas utama mereka adalah menciptakan masyarakat yang adil yang secara mutlak menghargai semua warga, termasuk yang lemah dan rentan. … Pengalaman membangun masyarakat semacam itu dan pengalaman hidup di lingkungan seperti itu akan memberi mereka [rasa] kedekatan ilahi. … Setiap muslim harus bersifat historis. Maksudnya, urusan negara tidaklah jauh dari spiritualitas, tetapi [bahkan merupakan] salah satu bagian dari agama itu sendiri. Bagi mereka, kesejahteraan umat Islam merupakan urusan terpenting secara politik.

Lanjutkan membaca Titik Temu antara Islam dan Universalisme Tauhid

Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Dari Islam ke Universalisme Tauhid

oleh Hafidha Acuay

Sebagaimana hampir semua wanita yang menceritakan kisah mereka di [buku] Living Islam Out Loud: American Muslim Women Speak, saya belum secara sungguh-sungguh mempersoalkan agama yang diajarkan kepada saya sampai masa remaja-akhir saya. Dulu, saya seorang Islam yang taat. Pengalaman saya mirip dengan Samina Ali, yang menulis: “Saya dan teman-teman wanita saya berbincang-bincang dengan serius mengenai betapa beruntungnya kami terlahir dalam agama kami, karena semua orang di luar sana terlahir ‘buta’ dan lantaran pilihan mereka sendiri akan mati dalam keadaan ‘buta’.”

Masa kanak-kanak saya indah. Sedangkan masa remaja saya, walau terkadang merasa kesepian dan depresi, penuh dengan impian. Namun di masa dewasa-awal, ketika saya menjadi terbuka terhadap semakin banyak orang Islam dan terhadap munculnya aliran Islam yang keras yang dikenal sebagai Wahhabisme di Amerika Serikat, hati saya mulai tertusuk dan semakin tertusuk.
Lanjutkan membaca Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Uniknya agama Universalisme Tauhid

Robert Fulghum
Robert Fulghum
Berikut ini bagian dari percakapan di sebuah toko [yang melibatkan seorang pemuka agama Universalisme Tauhid]:

“Pak Fulghum, benarkah Anda seorang pendeta?”

“Ya.”

“Di manakah gereja Anda?”

“Kita sedang berdiri di dalamnya.”

“Tapi ini toko buku dan sekarang hari Jumat.”

“Ya, tetapi bisa pula Anda menganggapnya sebagai katedral spirit manusia — sebuah rumah-toko pengabdian bagi semua pengalaman manusia yang beraneka-macam. Hampir semua gagasan hebat manusia ada di sini. Tempat yang mengandung pemikiran hebat merupakan tempat suci.”

“Oh, ya? Anda ini pendeta dari aliran agama apa?”

“Universalisme Tauhid (Unitarian Universalism).”

“Dan Anda mengadakan kebaktian di tokobuku-tokobuku pada hari Jumat?”

Lanjutkan membaca Uniknya agama Universalisme Tauhid

Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani

Belajar dengan Hati Nurani — Sophia Lyon Fahs

Sophia Lyon Fahs
Sophia Lyon Fahs

oleh Polly Peterson

“Mama, Mama, kapan kita sampai di tujuan?” tanya Sophia kecil. Bersama dengan keluarganya, ia melintasi luasnya Samudera Pasifik di atas sebuah kapal besar yang berlayar ke Amerika. Sophia Lyon, si gadis Amerika yang saat itu berumur tiga setengah tahun, menempuh perjalanan ke Amerika untuk pertama kalinya. Ia dan kakak-kakaknya lahir di China, tempat yang di situlah ayah mereka menjadi pendeta Kristen evangelis dan ibu mereka menjadi pendiri sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan China.

Lanjutkan membaca Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani

Batas-batas Kebebasan, Akal, dan Toleransi

Apa batas-batas kebebasan, akal, dan toleransi?

Kebebasan menyiratkan tanggung jawab.

Akal harus diseimbangkan dengan kepekaan dan kebijakan hati yang mengarahkan kita kepada tindakan yang pengasih dan penyayang.

Toleransi memerlukan pengetahuan, rasa hormat, dan kepekaan-perasaan.

————
Sumber: The Limits of Freedom, Reason, and Tolerance, p. 5.