Jangan Biarkan Anak-anak Kita Menjadi Teroris!

kover buku Acts of FaithApakah para teroris “religius” itu menjadi teroris secara tiba-tiba? Tidak! Ada proses tertentu yang dilalui sebelum mereka menjadi teroris. Kalau kita mengenali proses tersebut, maka kita dapat menduga orang manakah atau kelompok manakah yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi teroris. Kemudian jika kita mengenali proses ini, maka kita dapat melakukan tindakan pencegahan agar mereka tidak berubah menjadi teroris.

Proses tertentu itu dijelaskan dalam buku Acts of Faith karya Eboo Patel. Di bawah ini saya sampaikan terjemahan bagian Pendahuluan (Introduction) buku tersebut.

Garis Iman

Penulis: Eboo Patel
Penerjemah: M Shodiq Mustika

“Siapa pun yang tidak merangkai bunga akan merangkai duri.
Kalau kau tidak membangun ruang hikmah yang terbuka, maka kau membangun penjara.”
–Syamsuddin Tabrizi

Di pengadilan, Eric Rudolph mengakui segala dakwaan. Namun ia tidak menyesal. Ia tidak menyesal atas bom paku berkendali-radio yang ia ledakkan di klinik New Woman All Women Health Care di Birmingham, Alabama, yang menewaskan seorang polisi yang tidak sedang bertugas dan menyebabkan seorang perawat menjadi pincang dan setengah-buta. Ia tidak menyesal atas bom pada Olimpiade 1996 di Atlanta yang menewaskan satu orang, melukai puluhan orang, dan menimbulkan gelombang kengerian di segenap masyarakat. Ia tidak menyesal atas suratnya yang penuh dengan kebencian, yang menyatakan, “Kami menyatakan perang total dan akan memerangi rezim komunis yang tak bertuhan di New York dan antek-antek legislatif-birokrat Anda di Washington,” yang berlabel “Laskar Tuhan.” Ia tidak menyesal telah mencorat-coreti Alkitabnya dengan tulisan “bom” di sela-sela teksnya.

Rudolph justru bangga dan menantang. Ia menguliahi hakim tentang kebenaran tindakannya. Ia tampak senang ketika mengingat bahwa agen-agen federal melewati tempat persembunyiannya. Tanpa malu-malu, ia nyatakan bahwa aborsi, homoseksualitas, dan semua gejala “sosialisme global” masih perlu “dilawan dengan kasar.” Ia melakukannya atas nama Kristen, dengan mengutip dari Perjanjian Baru: “Aku sudah berperang dalam peperangan yang baik, aku sudah menghabiskan perjalananku, aku sudah memelihara iman.” [2 Timotius 4:7]

Lantaran bom di Birmingham itu, Felicia Sanderson kehilangan Robert suaminya, sang polisi. Di sidang pengadilan, ia memutar rekaman pidato-pidato di pemakaman suaminya. Orang-orang mengingat bahwa dia menyediakan permen untuk anak-anak di mobil patrolinya dan mengumpulkan uang untuk hadiah Natal bagi sebuah keluarga yang rumahnya baru saja dirampok. Felicia Sanderson menuding Rudolph dan memberitahu pengadilan, “Dialah yang mengalirkan setiap tetes airmata putra-putra saya.”

Hakim C. Lynwood Smith memvonis Rudolph dengan hukuman dua kali seumur hidup, menyamakannya dengan Nazi, dan mengatakan bahwa ia terkejut atas kurangnya penyesalan Rudolph. Bahkan banyak orang memandang bahwa Rudolph merasa bangga.

Eric Rudolph mungkin seorang penyendiri, tetapi ia tidak bertindak sendirian. Ia dihasilkan oleh suatu pergerakan dan didorong oleh suatu budaya. Di hutan North Carolina barat, tempat Rudolph menghindar dari agen-agen federal selama lima tahun, orang-orang menyemangati dia, membantu dia bersembunyi, membuat kaos-kaos T-shirt yang bertuliskan RUN RUDOLPH RUN. Di hari tertangkapnya Rudolph, seorang wanita di kawasan tersebut mengatakan, “Rudolph seorang Kristen dan saya seorang Kristen … Itulah nilai-nilai kami. Ini hutan kami.”

Di antara semua informasi yang beredar mengenai Rudolph, terdapat sepotong kalimat yang menarik perhatian saya: Rudolph menulis esai yang menyangkal Holocaust sewaktu di SMA. Bagaimana bisa remaja tersebut menganut pandangan semacam itu?

Jawabannya sederhana: orang-orang mengajari dia. Eric Rudolph selalu membuat masalah di sekolah–membolos, berkelahi. Ia tak pernah betah. Ayahnya wafat ketika ia masih muda. Ibunya bertemu dengan dan mengikuti tokoh-tokoh sekte berbahaya yang mengkhotbahkan teologi kebencian. Yang pertama ialah Tom Branham, yang mendorong keluarga Rudolph untuk berpindah rumah untuk menjadi tetangganya di Topton, North Carolina. Eric segera menggambar simbol-simbol Nazi di buku-buku sekolahnya di Nantahala High School. Berikutnya, ibu Eric memindahkan keluarganya ke Schell City, Missouri, supaya dekat dengan Dan Gayman, seorang tokoh terkemuka gerakan ekstremis Christian Identity. Gayman pernah menjadi kepala sekolah dan tahu bagaimana menanamkan pengaruhnya pada para pemuda. Ia menjadi ayah-angkat bagi Eric, mengikutkannya dalam program-program kepemudaan Christian Identity, dan memastikan bahwa dia membaca literatur pergerakan ini. Gayman mengajari Eric bahwa Injil adalah sejarah Arya yang berkulit putih dan bahwa orang-orang Yahudi merupakan biang setan dan bagian dari suatu suku yang disebut “bangsa lumpur”. Dunia sedang mendekati pertempuran akhir antara hamba-hamba Tuhan dan budak-budak Iblis, dan terserah kepada orang-orang Arya yang “insaf” untuk memastikan kemenangan di pihak ras yang benar. Eric menyebut televisi sebagai “Yahudi Elektrik.” Ia menggoreskan lambang-lambang swastika di perabot mebel ruang keluarga ibunya.

Perpustakaan pribadinya meliputi terbitan-terbitan maut anti-Semit, seperti The Protocols of the Learned Elders of Zion, Anne Frank’s Diary: A Hoax, dan The International Jew. Di bawah asuhan Gayman dan pengkhotbah-pengkhotbah radikal lainnya, kebencian Eric Rudolph mengalami sesuatu yang selalu terjadi pada kebencian, yaitu menyebar.

Saya bayangkan, pengkhotbah-pengkhotbah tersebut merasakan gelora kebanggaan ketika Rudolph menjawab pertanyaan Hakim Smith mengenai apakah ia memasang bom di Birmingham itu dengan bangga, “Ya, begitulah saya melakukannya.”

*

Murid-murid SMP di Whitwell, Tennessee, menyelenggarakan wisata tentang salah satu kenangan Holocaust yang paling terkenal sedunia: sebuah gerbang kereta api Jerman yang dulu digunakan untuk mengangkut orang-orang Yahudi ke Auschwitz. Para remaja itu meminta tamu-tamu untuk membayangkan bagaimana perasaan mereka seandainya menjadi salah satu dari tujuhpuluh atau delapanpuluh orang Yahudi yang dijejalkan ke dalam ruang sesempit itu, seraya mendengarkan suara gemerincing roda besi yang membawa mereka menuju siksaan dan kematian. Mereka menjelaskan bahwa gerbang kereta api tersebut penuh dengan jutaan penjepit kertas, yang masing-masing melambangkan seorang Yahudi yang dibunuh oleh kaum Nazi. Seorang siswa mengatakan bahwa melihat penjepit kertas itu kini berarti memikirkan nyawa. Tanda pada pintu masuk kenangan itu terbaca: “Kami mohon Anda berhenti sejenak untuk merenungkan nistanya intoleransi dan kebencian. Tanda pada pintu keluarnya terbaca: “Apa yang bisa saya lakukan untuk menyebarkan pesan cinta dan toleransi yang ditunjukkan oleh anak-anak tersebut dengan kenangan ini?”

Seorang siwa pemandu wisata ini, yang hampir naik kelas dari kelas delapan, berpikiran, “Kelak bila saya kembali dan melihatnya, dengan menyadari bahwa saya pernah berada di sini untuk melakukan ini, maka ini bukan sekadar memori, melainkan sejenis kepuasan hati bahwa Anda telah mengubah cara pikir orang-orang mengenai orang lain.”

Whitwell adalah sebuah kota kecil yang penduduknya tidak sampai dua ribu orang, terletak di luar Chattanooga di kawasan tambang batubara Tennessee tenggara, sekitar 100 mil dari tempat lahir Ku Klux Klan. Kota ini memiliki dua lampu lalulintas dan banyak rambu-rambu TUHAN MEMBERKATI AMERIKA. Tambangnya telah ditutup tigapuluh tahun yang lalu, sehingga kawasan ini menjadi lebih miskin daripada sebelumnya. Anda bisa menghitung jumlah keluarga Latin dan keluarga berkulit hitam di Whitwell dengan dua tangan, tetapi Anda tidak membutuhkan jari tangan untuk menghitung jumlah orang Katolik, Yahudi, dan Muslim, karena mereka tidak ada.

Mengapa anak-anak berkulit putih di kawasan miskin yang berpengalaman dalam berprasangka itu menaruh perhatian besar pada agama Yahudi? Jawabnya sederhana: orang-orang mengajari mereka. Kepala SMP Whitwell, Linda Hooper, ingin para siswa di sekolahnya belajar tentang budaya-budaya dan orang-orang yang berbeda dengan mereka sendiri. “Anak-anak kami, mereka itu sopan, bijaksana, dan penuh perhatian. Namun mereka sangat serupa. Kalau kita menjumpai seseorang yang tidak mirip dengan kita, kita tidak punya pengalaman sama sekali.”

Ia mengirim seorang guru ke konferensi keragaman, dan kemudian ia pulang dengan gagasan proyek pendidikan Holocaust. “Inilah yang kami butuhkan,” kata Hooper.

Sampai beberapa tahun berikutnya, murid-murid di Whitwell itu mempelajari masa yang mengerikan itu, bertemu dengan korban Holocaust yang selamat, belajar tentang tradisi yang kaya dari agama Yahudi, dan mengajarkan kepada semua orang yang terkesan oleh mereka mengenai peran-peran besar yang bisa dimainkan oleh generasi muda dalam memajukan pluralisme.

Lena Gitter, seorang korban Holocaust yang selamat dan kini berumur 95 tahun, mendengar kabar tentang proyek ini, lalu menulis surat kepada para murid itu: “Saya [pernah] menyaksikan ke mana intoleransi bisa menuju. Saya bersyukur bahwa di masa akhir hayat ini, saya dapat melihat dan mendengar bahwa ajaran toleransi masih hidup dengan baik dan berbuah. Bila Anda meminta kepada pemuda ini, maka mereka akan melakukan hal-hal yang baik. Dengan mata yang berkaca-kaca, saya menundukkan kepala di hadapan Anda. Shalom.”

**

Eric Rudolph dan murid-murid di Whitwell itu merupakan tanggapan yang berlainan terhadap salah satu dari pertanyaan terpenting di zaman kita: Dalam suatu dunia yang bersemangat religius dan berinteraksi dengan mendalam, bagaimana orang-orang yang berbeda keyakinan dapat saling terlibat? Dengan bom penghancur, Rudolph menanggapi orang-orang yang berbeda dengannya. Adapun murid-murid di Whitwell itu menanggapi keragaman tersebut dengan membangun jembatan pemahaman. Rudolph ialah seorang agamis yang ekstremis, sedangkan murid-murid Whitwell itu orang-orang agamis yang pluralis. Mereka berada di sisi yang berlainan dari suatu garis iman.

Seratus tahun yang lalu, seorang cendekiawan hebat Amerika keturunan Afrika yang terkenal, W.E.B. DuBois, menyatakan, “Masalah abad ke-20 adalah masalah garis warna-kulit.” Saya yakin bahwa abad ke-21 akan dibentuk oleh garis iman.

Di satu sisi [garis ini] terdapat orang-orang ekstrem perihal agama. Mereka yakin bahwa hanya ada satu interpretasi dari satu agama yang merupakan cara yang sah untuk berada, berkepercayaan, dan berkepemilikan di bumi. Menurut mereka, setiap orang perlu diancam, dipindahkan ke agama mereka, dihukum, atau dibunuh.

Di sisi lain [garis ini] terdapat orang-orang pluralis perihal agama. Mereka berpendapat bahwa orang-orang yang agama atau aliran kepercayaannya berlainan perlu belajar untuk hidup bersama. Pluralisme beragama bukanlah sekadar sama-sama ada atau pun konsensus yang dipaksakan. Ini merupakan bentuk kerjasama proaktif yang menegaskan identitas masing-masing seraya menekankan bahwa kesejahteraan mereka masing-masing itu bergantung pada kesejahteraan keseluruhannya. Dipercaya bahwa kebaikan umum itu berfungsi dengan paling baik menakala setiap komunitas memiliki kesempatan untuk memberi kontribusi yang unik.

Kaum ekstremis perihal agama itu memiliki keuntungan yang unik dari kemampuan untuk saling bertentangan dan sekaligus saling bekerja sama dalam waktu yang sama. Osama bin Laden mengatakan bahwa orang-orang Kristiani hanya akan menghancurkan kaum muslimin. Pat Robertson mengatakan bahwa kaum muslimin hanya akan menguasai orang-orang Kristen. Bin Laden menuding Pat Robertson sebagai bukti pernyataannya. Pat Robertson menuding Bin Laden sebagai bukti pernyataannya. Bin Laden mengatakan bahwa di garis iman ini, ia memasukkan orang-orang muslim ke sisinya. Robertson mengklaim bahwa ia memasukkan orang-orang Kristen ke sisinya. Namun jika Anda memandangnya dari sudut pandang tertentu, maka bisa Anda lihat bahwa mereka sama sekali bukan berada di sisi yang berlawanan. Mereka berjalan seiring, bahu-membahu, sebagai sepasang ekstremis yang bekerjasama melawan impian hidup bersama.

Hasil dari pertanyaan tentang garis iman itu bergantung pada sisi mana yang dipilih oleh generasi pemuda. Para pemuda itu selalu memainkan peran penting dalam gerakan-gerakan sosial, dari perjuangan melawan apartheid di Afrika Selatan sampai bangkitnya Partai Nazi di Jerman. Kita hidup di suatu zaman ketika sebagian besar dari populasi yang paling bergejolak keagamaannya itu terdiri dari orang-orang yang sangat muda. Tujuhpuluh-lima persen dari semilyar penduduk India belum berumur 25 tahun. Delapanpuluh-lima persen dari orang-orang yang tinggal di wilayah Palestina belum berumur 33 tahun. Lebih dari duapertiga rakyat Iran belum berumur tigapuluh tahun. Usia rata-rata di Iraq ialah 19½ tahun. Semua orang ini berdiri di garis iman. Pesan siapakah yang mereka dengarkan?

Saat menyaksikan Paper Clips, film dokumenter tentang murid-murid Whitwell itu, saya tak bisa berhenti selain penasaran: Bagaimana kalau Linda Hooper mendapatkan Eric Rudolph sebelum Dan Gayman? Bagaimana kalau Rudolph mengikuti First United Methodist Church di Whitwell, yang menjadi tempat proyek wisata Holocaust, sebagai pengganti program-program kepemudaan Christian Identity? Bagaimana kalau Rudolph turut membantu mengumpulkan penjepit kertas dengan anak-anak lain di SMP Whitwell sebagai pengganti belajar dengan orang-orang fanatik? Bagaimana kalau ia membaca Anne Frank: The Diary of a Young Girl sebagai pengganti Anne Frank’s Diary: A Hoax? Eric Rudolph sang teroris agamis itu bukannya tak terelakkan, sebagaimana para remaja pembangun jembatan Whitwell. Mereka masing-masing dididik dengan cermat dan sengaja.

Buku [Acts of Faith] ini tentang bagaimana beberapa pemuda menjadi jawara pluralisme beragama, sedangkan yang lain menjadi kaki-tangan ekstremisme keagamaan. Tesisnya sederhana: pengaruh-pengaruh berperan, program-program berlaku, mentor-mentor membuat perbedaan, lembaga-lembaga meninggalkan jejak mereka. Bila kita ke belakang meninjau kehidupan para teroris agamis belia, maka kita jumpai suatu jaringan individu dan organisasi yang membentuk mereka. Hampir semua pemuda pembunuh ini bukanlah individu yang sakit jiwa. Mereka itu anak-anak muda yang jatuh ke tangan-tangan yang memanipulasi mereka untuk menjadi pembunuh. Setiap kali kita melihat seorang remaja membunuh orang atas nama Tuhan, kita harus menggambar sepasang tangan yang membayang di belakang mereka, yang menunjukkan dia bagaimana membuat bom atau membidikkan senapan, memberi dia panduan berdoa ketika melakukan pembunuhan, dan sebagainya. Dan kemudian kita perlu bertanya: Mengapa tangan-tangan yang membentuk anak tersebut ialah tangan orang-orang ekstremis agamis dan bukannya tangan orang-orang yang mempedulikan pluralisme?

Ekstremisme agamis adalah suatu gerakan orang-orang muda yang mengambil tindakan. Para nasionalis Hindu, pendeta Yahudi yang penuh dengan kebencian, pengkhotbah Christian Identity, dan ekstremis Muslim menggerogoti hasrat anak-anak muda untuk memiliki identitas yang jelas dan membuat dampak yang dahsyat. Kita melihat keberhasilan mereka di headline suratkabar setiap hari. Kerjasama antar-iman terlalu sering berupa konferensi ceramah tokoh-tokoh agama yang senior. Tentu saja, para tokoh ini memainkan peran penting dalam membangun jembatan keagamaan. Mereka telah mematahkan landasan teologis [ekstremis], mengokohkan kerangka pemahaman antar-iman, dan mengirim sinyal bahwa kerjasama dengan penganut agama lain bukan hanya mungkin, melainkan juga perlu. Namun masih sedikit sekali generasi muda yang dilibatkan.

***

Saya seorang muslim Amerika dari India. Masa remaja saya adalah serangkaian penolakan terhadap berbagai dimensi dari khazanah saya, dengan mengira bahwa Amerika, India, dan Islam tidak bisa bersama-sama eksis. Saya sangka bahwa jika saya menjadi salah satunya, maka saya tidak bisa menjadi yang lainnya. Perjuangan saya untuk memahami bahwa tradisi-tradisi tersebut bisa lebih saling melengkapi daripada saling mengurangi merupakan kisah suatu generasi muda yang berdiri di simpang jalan antara khazanah dan penemuan, yang mengamati keduanya secara bersamaan. Ada hubungan yang kuat antara menemukan koherensi batiniah dan membangun komitmen terhadap pluralisme. Dan itu mengenai segala sesuatu yang perlu dilakukan terhadap orang-orang yang Anda jumpai di simpang jalan ini.

Ketika saya berkuliah di perguruan tinggi, saya tiba-tiba menyadari bahwa semua pahlawan saya merupakan orang-orang yang sangat religius: Dorothy Day, Dalai Lama, Martin Luther King Jr., Mahatma Gandhi, Malcolm X, Aga Khan. Lagipula agama mereka berlainan.

Suatu penelitian lebih lanjut mengungkap dua wawasan tambahan. Pertama, kerjasama religius merupakan inti dari hampir semua pahlawan iman tersebut. Pendeta Marthin Luther King Jr. berpasangan dengan Rabbi Abraham Joshua Heschel dalam memperjuangkan hak asasi manusia. Mahatma Gandhi menyatakan bahwa kesatuan Hindu-Muslim sama pentingnya dengan kemerdekaan India bagi dia. Kedua, setiap pahlawan saya tersebut menganggap penting peran kepemimpinan di usia muda. King baru berumur 26 tahun ketika ia memimpin pemboikotan bus Montgomery. Gandhi bahkan lebih muda ketika ia memulai gerakannya menentang hukum yang tak adil pada awal abad ke-20 di Afrika Selatan.

Saya menghadiri konferensi antar-iman pertama saya ketika berusia 21 tahun. Ternyata di situ sayalah peserta termuda, sedangkan peserta muda lainnya berusia 30-an tahun. Semakin banyak konferensi yang saya ikuti, semakin sering saya jumpai pola serupa. Saya jadi penasaran merenungkan King muda di Montgomery atau pun Gandhi muda di Johannesburg. Setahu saya, generasi saya pun memiliki pahlawan-pahlawan iman yang pemberani dan bervisi. Mengapa mereka tidak tampak dilibatkan dalam proyek yang amat penting dalam membangun pluralisme keagamaan, dengan mengidupkan kembali tradisi Gandhi dan King di era global yang diwarnai dengan konflik keagamaan? Wajah orang-orang agamis yang fanatik itu muda, sedangkan kerjasama antar-iman itu berwajah orang tua. Sesuatu harus berubah.

Perubahan terjadi secara internal sebelum berlangsung di dunia. Transformasi saya dipicu oleh sebuah momen kegagalan.

Di SMA, kelompok makan-siang saya meliputi seorang Yahudi Kuba, seorang [Kristen] Evangelis Nigeria, dan seorang Hindu India. Sampai taraf tertentu, kami sama-sama taat beragama, tetapi kami hampir tak pernah saling membicarakan agama kami. Seringkali diantara kami ada yang menyatakan bahwa ia tak bisa menyantap makanan tertentu, atau pun tidak makan sama sekali selama periode tertentu. Kami tahu, agama kamilah yang menyebabkan kami berpantang makan begitu, tetapi tak seorang pun menyampaikan penjelasan yang lebih mendalam selain “kata mamaku,” dan tak seorang pun menanyakannya.

Kebisuan itu meringankan kami. Kami tidak dilengkapi dengan bahasa yang memungkinkan kami untuk saling menjelaskan agama kami. Belakangan, saya mulai memikirkan bahaya yang mengintai dalam kesunyian ini.

Beberapa tahun selepas kelulusan kami, teman Yahudi saya mengingatkan saya mengenai masa gelap kami semasa remaja. Ada sekelompok anak di SMA kami yang, selama beberapa pekan, menulis coretan-coretan yang anti-Semit di meja-meja ruang kelas dan membuat pernyataan-pernyataan yang cabul tentang orang-orang Yahudi di koridor-koridor. Saya tidak menentang mereka. Saya tidak menghibur teman Yahudi saya. Sedikit saja yang saya ketahui tentang makna agama Yahudi bagi dia; begitu pula tentang efek emosional anti-Semitisme. Saya bahkan tidak tahu sama sekali bagaimana menghentikan kefanatikan dalam beragama. Jadi, saya mengalihkan pandangan mata saya dan menghindari teman saya, karena saya tidak tega bertemu dengannya [pada saat itu].

Beberapa tahun kemudian, ia memaparkan ketakutan yang ia alami setiap kali masuk sekolah pada hari-hari tersebut. Ia pun merasa sendirian karena teman-teman terdekatnya tidak peduli. Mendengar pengakuannya tentang penderitaannya itu merupakan pengalaman hidup saya yang paling memalukan saya. Saya tidak mengetahui hal ini sewaktu di SMA, tetapi kebisuan saya itu merupakan pengkhianatan; pengkhianatan terhadap Islam, yang mendorong orang-orang muslim untuk berani dan berbelas-kasih ketika menghadapi kezaliman; pengkhianatan terhadap Amerika, sebuah bangsa yang mengandalkan para warganya untuk memelihara jembatan pluralisme ketika orang lain mencoba menghancurkannya; pengkhianatan terhadap India, sebuah negeri yang terlalu sering melihat aliran darah di kota-kota dan desa-desanya ketika kaum ekstremis membidik minoritas sedangkan orang-orang lain gagal melindungi mereka.

Teman saya saat itu membutuhkan lebih dari sekadar kebisuan saya di meja makan. Pluralisme bukanlah posisi yang default atau pun autopilot. Pluralisme adalah sikap komitmen yang tercermin dalam tindakan. Ini memerlukan keterlibatan yang disengaja dengan orang yang berbeda, kesetiaan yang blak-blakan dengan yang lain, dan perlindungan yang proaktif terhadap pelanggarannya. Anda harus memilih untuk melangkah di sisi pluralisme, dan kemudian Anda harus memastikan suara Anda didengar. Sebagaimana kata Robert Frost, adalah mudah menyaksikan kematian pluralisme di kobaran api bom bunuh-diri. Namun es kebisuan pun akan membinasakannya juga.

Inilah kisah tentang kembali kepada iman, menemukan koherensi, berkomitmen terhadap pluralisme, dan hal-hal yang mempengaruhi kehidupan saya.

—————
ACTS OF FAITH: The Story of an American Muslim, the Struggle for the Soul of a Generation
by Eboo Patel
Copyright © 2007 by Eboo Patel
Reprinted by permission of Beacon Press, Boston

Diterbitkan oleh

Prof. Idiot

M Shodiq (Musa Mustika), a national bestseller writer, a former lecturer of a well-known university in Indonesia.

6 tanggapan untuk “Jangan Biarkan Anak-anak Kita Menjadi Teroris!”

    1. Kosa kata Teroris yang anda & penulis maksud dan fahami di dalam tulisan ini adalah konsep terorisme versi amerika dan antek-anteknya. Mudah-mudahan cahaya Islam bisa menyinari jalan-jalan kalian dan kami.

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s