Liberalkah Anda selaku muslim?

Bahwa saya dicap liberal, JIL tulen, dsb, sudah lama saya mengalaminya. Selama ini saya tidak peduli. Bahwa JIL dinilai sesat, saya juga tak peduli. Toh itu hanya label yg disematkan oleh sesama manusia, bukan oleh Sang Mahabenar. Kalau sekarang saya mengulasnya, ini semata-mata untuk mawas diri, untuk kepentingan saya sendiri selaku seorang muslim universalis. (Syukur-syukur kalau ada pembaca yang bisa mengambil hikmah dari sini.)

Untuk patokan, walau mungkin kurang akurat, akan saya gunakan 14 kriteria dari artikel “Kesesatan JIL” yang katanya ditulis oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub, MA.

1a. Pemikiran JIL: “Umat Islam tidak boleh memisahkan diri dari umat lain, sebab manusia adalah keluarga universal yang memiliki kedudukan yang sederajat.”

Pemikiran saya berbeda: Umat Islam boleh memisahkan diri dari umat lain bila perlu, tetapi biasanya lebih baik menjalin hubungan baik dengan umat lain, karena manusia adalah keluarga universal yang memiliki kedudukan yang sederajat di dunia (walau mungkin berbeda di akhirat).

1b. Pemikiran JIL: “Karena itu larangan perkawinan antara wanita muslimah dengan pria non muslim sudah tidak relevan lagi.”

Pemikiran saya berbeda: Larangan tersebut bisa masih relevan, tapi bisa pula sudah tidak relevan, tergantung kasusnya.

2. Pemikiran JIL: “Produk hukum Islam klasik (fiqh) yang membedakan antara muslim dengan non muslim harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal manusia.”

Pemikiran saya berbeda: Sebagian produk fiqh hasil ijtihad masa lalu (termasuk tentang hubungan muslim-nonmuslim) masih relevan untuk diterapkan. Sebagian lainnya membutuhkan ijtihad baru yang lebih dekat dengan tujuan syariat.

3. Pemikiran JIL: “Agama adalah urusan pribadi, sedangkan urusan Negara adalah murni kesepakatan masyarakat secara demokratis.”

Pemikiran saya berbeda: Ada bagian agama yang merupakan urusan pribadi, ada bagian agama yang merupakan urusan negara yang perlu diatur berdasarkan Pancasila sebagai dasar negara kita.

4a. Pemikiran JIL: “Hukum Tuhan itu tidak ada.”

Pemikiran saya berbeda: Hukum Tuhan itu ada, tetapi kita berkemungkinan salah-paham mengenai mana yang sebenarnya merupakan Hukum Tuhan. (Lihat halaman “Manakah Aliran Sesat?“)

4b. Pemikiran JIL: “Hukum mencuri, zina, jual-beli, dan pernikahan itu sepenuhnya diserahkan kepada umat Islam sendiri sebagai penerjemahan nilai-nilai universal.”

Pemikiran saya berbeda: Hukum mencuri, zina, jual-beli, dan pernikahan itu merupakan urusan negara yang perlu diatur berdasarkan Pancasila sebagai dasar negara kita.

5. Pemikiran JIL: “Muhammad adalah tokoh histories yang harus dikaji secara kritis karena beliau adalah juga manusia yang banyak memiliki kesalahan.”

Pemikiran saya berbeda: Pemahaman kita tentang Nabi Muhammad mungkin saja salah paham, sehingga kita perlu kritis terhadap pemahaman kita tersebut. (Lihat halaman “Manakah Aliran Sesat?“)

6a. Pemikiran JIL: “Kita tidak wajib meniru rasulllah secara harfiah.”

Pemikiran saya berbeda: Ada kalanya kita wajib meniru Rasulullah secara harfiah, ada kalanya tidak wajib (yaitu: sunnah, mubah, makruh, haram).

6b. Pemikiran JIL: “Rasulullah berhasil menerjemahkan nilai-nilai Islam universal di Madinah secara kontekstual.”

Pemikiran saya sama: Rasulullah berhasil menerjemahkan nilai-nilai Islam universal di Madinah secara kontekstual.

6c. Pemikiran JIL: “Maka kita harus dapat menerjemahkan nilai itu sesuai dengan konteks yang ada dalam bentuk yang lain.”

Pemikiran saya berbeda: Kita tidak harus, tetapi sebaiknya dapat menerjemahkan nilai itu ketika dibutuhkan sesuai dengan konteks yang ada, sedangkan bentuknya bisa sama, tapi bisa pula berbeda.

7. Pemikiran JIL: “Wahyu tidak hanya berhenti pada zaman Nabi Muhammad saja (wahyu verbal memang telah selesai dalam bentuk al-Qur’an). Tapi wahyu dalam bentuk temuan ahli fikir akan terus berlanjut, sebab temuan akal juga merupakan wahyu karena akal adalah anugerah Tuhan.”

Pemikiran saya berbeda: Petunjuk Tuhan itu tidak berhenti dengan wahyu kepada Nabi Muhammad dalam bentuk al-Qur’an. Karena itu, sebaiknya kita senantiasa memohon petunjuk kepada-Nya, termasuk melalui istikharah, walau kita tidak tahu kapan dan bagaimana Tuhan akan memberi kita petunjuk.

8a. Pemikiran JIL: “semua temuan manusia adalah wahyu”

Pemikiran saya berbeda: Tidak semua temuan manusia merupakan hasil petunjuk yang benar dari Tuhan. Karena itu, “Akal Sehat itu bukan tuhanku.”

8b. Pemikiran JIL: “maka umat Islam tidak perlu membuat garis pemisah antara Islam dan Kristen, timur dan barat, dan seterusnya.”

Pemikiran saya berbeda: Ada kalanya kita perlu membuat garis pemisah, ada kalanya pula kita tidak perlu membuat garis pemisah antara Islam dan Kristen, Timur dan Barat, dan seterusnya.

9a. Pemikiran JIL: “Nilai islami itu bisa terdapat di semua tempat, semua agama, dan semua suku bangsa.”

Pemikiran saya sama: Nilai islami itu bisa terdapat di semua tempat, semua agama, dan semua suku bangsa.

9b. Pemikiran JIL: “Maka melihat Islam harus dilihat dari isinya bukan bentuknya.”

Pemikiran saya berbeda: Ada kalanya kita perlu melihat Islam dari isinya, ada kalanya kita perlu melihat Islam dari bentuknya.

10a. Pemikiran JIL: “Agama adalah baju, dan perbedaan agama sama dengan perbedaan baju.”

Pemikiran saya berbeda: Agama bukan baju, dan perbedaan agama tidak sama dengan perbedaan baju.

10b. Pemikiran JIL: “sangat konyol orang yang bertikai karena perbedaan baju (agama).”

Pemikiran saya berbeda: Ada kalanya pertikaian karena perbedaan baju (atau pun agama) itu sangat konyol, ada kalanya pula tidak konyol.

10c. Pemikiran JIL: “semua agama mempunyai tujuan pokok yang sama, yaitu penyerahan diri kepada Tuhan.”

Pemikiran saya berbeda: Tidak semua agama bertujuan pokok menyerahkan diri kepada Tuhan.

11a. Pemikiran JIL: “Misi utama Islam adalah penegakan keadilan.”

Pemikiran saya berbeda: Misi utama Islam adalah menjadi rahmat bagi semesta alam.

11b. Pemikiran JIL: “Umat Islam tidak perlu memperjuangkan jilbab, memelihara jenggot, dan sebagainya.”

Pemikiran saya berbeda: Umat Islam perlu mempertimbangkan skala prioritas kebutuhan untuk menentukan mana yang lebih perlu diperjuangkan.

12. Pemikiran JIL: “Memperjuangkan tegaknya syariat Islam adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menyelesaikan masalah secara arasional. Mereka adalah pemalas yang tidak mau berfikir.”

Pemikiran saya berbeda: Memperjuangkan tegaknya syariat Islam adalah hak umat Islam, sebagaimana umat lain juga berhak memperjuangkan syariat mereka masing-masing. Mereka bukan pemalas yang tidak mau berfikir.

13. Pemikiran JIL: “Orang yang beranggapan bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan syariat adalah orang kolot dan dogmatis.”

Pemikiran saya berbeda: Ketika ada perbedaan aspirasi dalam memperjuangkan syariat masing-masing, maka ini merupakan urusan negara yang perlu diatur berdasarkan Pancasila sebagai dasar negara kita.

14a. Pemikiran JIL: “Islam adalah proses yang tidak pernah berhenti, yaitu untuk kebaikan manusia.”

Pemikiran saya berbeda: Islam adalah proses yang berlangsung terus untuk kebaikan alam semesta, bukan hanya untuk manusia.

14b. Pemikiran JIL: “Karena keadaan umat manusia itu berkembang, maka Agama (Islam) juga harus berkembang dan berproses demi kebaikan manusia.”

Pemikiran saya berbeda: Karena kita semakin terpisah jauh (dalam dimensi waktu) dari narasumber kita dalam agama Islam (yaitu Nabi Muhammad), maka semakin besarlah kemungkinan bahwa kita salah paham dalam memahami Islam, sehingga kita perlu semakin lebar dalam membuka pintu ijtihad.

14c. Pemikiran JIL: “Kalau Islam itu diartikan sebagai paket sempurna seperti zaman rasulullah, maka itu adalah fosil Islam yang sudah tidak berguna lagi.”

Pemikiran saya berbeda: Islam itu perlu diartikan sebagai proses yang sempurna untuk kebaikan alam semesta.

Demikianlah introspeksi saya. Dari situ, bisa saya hitung bahwa kesamaan pemikiran saya dengan pemikiran JIL ada lima-perenam nomor (jumlah dari sepertiga (no. 6b) dan setengah (no. 9a)) dari 14 nomor. Bila dipersentase, maka kesamaannya adalah 5,95 persen. Dengan kata lain, perbedaan pemikiran saya dengan pemikiran JIL adalah 94,05 persen.

Lantas, kenapa saya dituding JIL tulen, sedangkan kesamaannya hanya 5,95 persen? Mungkin saya kurang gamblang dalam menerangkan pemikiran saya, sehingga sebagian pembaca salah-paham & mengira pemikiran saya identik dengan pemikiran liberal ala JIL.

Diterbitkan oleh

Prof. Idiot

M Shodiq (Musa Mustika), a national bestseller writer, a former lecturer of a well-known university in Indonesia.

2 tanggapan untuk “Liberalkah Anda selaku muslim?”

  1. Anda bukam temasuk JIL. Anda mungkin bisa dikatakan selevel dengan Gusdur. Anda seorang islam yg berperilaku islam ko, menggunakan hati dan akal secara adil, menengah.. itulah penilaian saya..

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s