Liberalkah Anda selaku muslim?

Bahwa saya dicap liberal, JIL tulen, dsb, sudah lama saya mengalaminya. Selama ini saya tidak peduli. Bahwa JIL dinilai sesat, saya juga tak peduli. Toh itu hanya label yg disematkan oleh sesama manusia, bukan oleh Sang Mahabenar. Kalau sekarang saya mengulasnya, ini semata-mata untuk mawas diri, untuk kepentingan saya sendiri selaku seorang muslim universalis. (Syukur-syukur kalau ada pembaca yang bisa mengambil hikmah dari sini.)

Untuk patokan, walau mungkin kurang akurat, akan saya gunakan 14 kriteria dari artikel “Kesesatan JIL” yang katanya ditulis oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub, MA.

1a. Pemikiran JIL: “Umat Islam tidak boleh memisahkan diri dari umat lain, sebab manusia adalah keluarga universal yang memiliki kedudukan yang sederajat.”

Pemikiran saya berbeda: Lanjutkan membaca Liberalkah Anda selaku muslim?

Muslim baik adalah manusia buruk; benarkah?

Berikut ini kutipan diskusi di Facebook kemarin antara dua orang: SA dan MM. Intinya, SA menuduh bahwa Islam itu salah dan buruk, tetapi MM menunjukkan bahwa tuduhan tersebut hanya berdasarkan asumsi dan persepsi, bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya. Kami mengutipnya secara utuh tanpa sensor.

Lanjutkan membaca Muslim baik adalah manusia buruk; benarkah?

Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Selama tiga dasawarsa terakhir, banyak komentator politik menganggap bahwa Amerika Serikat terbagi dua antara “kanan religius” dan “kiri sekuler”. Orang-orang yang pergi ke gereja, menurut gambaran media, ialah orang-orang yang anti-gay dan anti-feminis; mereka lebih menyukai kedermawanan pribadi daripada kesejahteraan publik; mereka mengibarkan bendera ketika Amerika Serikat mengirim pasukan ke luar negeri. Sebaliknya, orang-orang liberal digambarkan sebagai elit-elit kota-besar yang meremehkan doa yang penuh-perasaan, bahkan tak mau mengucap “Selamat Natal” secara ramah atau pun “Tuhan memberkati Amerika” secara patriotik.

Akan tetapi, orang-orang Universalisme Tauhid seringkali merasa berada di luar gambaran tersebut–dan begitu pula orang-orang Katolik Roma yang mempedulikan kemiskinan dan orang-orang Protestan yang mengkhawatirkan pemanasan global. Dengan banyak cara, gambaran tersebut mencerminkan pandangan keduniaan tentang gerakan politik yang tegas baru-baru ini, yaitu kanan-religius, yang menganggap bahwa siapa pun yang mempertanyakan literalisme [tekstualnya makna kata-kata] injil merupakan seorang sekularis yang putus asa. Namun kita pun yang berada di luar gambaran tersebut juga jarang mempertanyakan kebenarannya.

Lanjutkan membaca Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Jangan Biarkan Anak-anak Kita Menjadi Teroris!

kover buku Acts of FaithApakah para teroris “religius” itu menjadi teroris secara tiba-tiba? Tidak! Ada proses tertentu yang dilalui sebelum mereka menjadi teroris. Kalau kita mengenali proses tersebut, maka kita dapat menduga orang manakah atau kelompok manakah yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi teroris. Kemudian jika kita mengenali proses ini, maka kita dapat melakukan tindakan pencegahan agar mereka tidak berubah menjadi teroris.

Proses tertentu itu dijelaskan dalam buku Acts of Faith karya Eboo Patel. Di bawah ini saya sampaikan terjemahan bagian Pendahuluan (Introduction) buku tersebut.
Lanjutkan membaca Jangan Biarkan Anak-anak Kita Menjadi Teroris!

Titik Temu antara Islam dan Universalisme Tauhid

Dalam Islam, kaum muslimin telah mencari Tuhan secara historis. Kitab suci mereka, Al-Qur’an, memberi mereka suatu misi historis. Tugas utama mereka adalah menciptakan masyarakat yang adil yang secara mutlak menghargai semua warga, termasuk yang lemah dan rentan. … Pengalaman membangun masyarakat semacam itu dan pengalaman hidup di lingkungan seperti itu akan memberi mereka [rasa] kedekatan ilahi. … Setiap muslim harus bersifat historis. Maksudnya, urusan negara tidaklah jauh dari spiritualitas, tetapi [bahkan merupakan] salah satu bagian dari agama itu sendiri. Bagi mereka, kesejahteraan umat Islam merupakan urusan terpenting secara politik.

Lanjutkan membaca Titik Temu antara Islam dan Universalisme Tauhid