Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Selama tiga dasawarsa terakhir, banyak komentator politik menganggap bahwa Amerika Serikat terbagi dua antara “kanan religius” dan “kiri sekuler”. Orang-orang yang pergi ke gereja, menurut gambaran media, ialah orang-orang yang anti-gay dan anti-feminis; mereka lebih menyukai kedermawanan pribadi daripada kesejahteraan publik; mereka mengibarkan bendera ketika Amerika Serikat mengirim pasukan ke luar negeri. Sebaliknya, orang-orang liberal digambarkan sebagai elit-elit kota-besar yang meremehkan doa yang penuh-perasaan, bahkan tak mau mengucap “Selamat Natal” secara ramah atau pun “Tuhan memberkati Amerika” secara patriotik.

Akan tetapi, orang-orang Universalisme Tauhid seringkali merasa berada di luar gambaran tersebut–dan begitu pula orang-orang Katolik Roma yang mempedulikan kemiskinan dan orang-orang Protestan yang mengkhawatirkan pemanasan global. Dengan banyak cara, gambaran tersebut mencerminkan pandangan keduniaan tentang gerakan politik yang tegas baru-baru ini, yaitu kanan-religius, yang menganggap bahwa siapa pun yang mempertanyakan literalisme [tekstualnya makna kata-kata] injil merupakan seorang sekularis yang putus asa. Namun kita pun yang berada di luar gambaran tersebut juga jarang mempertanyakan kebenarannya.

Lanjutkan membaca Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Iklan

Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Dari Islam ke Universalisme Tauhid

oleh Hafidha Acuay

Sebagaimana hampir semua wanita yang menceritakan kisah mereka di [buku] Living Islam Out Loud: American Muslim Women Speak, saya belum secara sungguh-sungguh mempersoalkan agama yang diajarkan kepada saya sampai masa remaja-akhir saya. Dulu, saya seorang Islam yang taat. Pengalaman saya mirip dengan Samina Ali, yang menulis: “Saya dan teman-teman wanita saya berbincang-bincang dengan serius mengenai betapa beruntungnya kami terlahir dalam agama kami, karena semua orang di luar sana terlahir ‘buta’ dan lantaran pilihan mereka sendiri akan mati dalam keadaan ‘buta’.”

Masa kanak-kanak saya indah. Sedangkan masa remaja saya, walau terkadang merasa kesepian dan depresi, penuh dengan impian. Namun di masa dewasa-awal, ketika saya menjadi terbuka terhadap semakin banyak orang Islam dan terhadap munculnya aliran Islam yang keras yang dikenal sebagai Wahhabisme di Amerika Serikat, hati saya mulai tertusuk dan semakin tertusuk.
Lanjutkan membaca Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Soal-Jawab 7: Tradisi Religius

Apakah upacara merupakan bagian dari tradisi [religius] Anda?

Kelahiran, pernikahan, kematian–kami menandai peristiwa-peristiwa ini dengan upacara [kebaktian]. Namun, upacara-upacara ini bukanlah ritual sakramen. Sang pendeta/imam menyesuaikan setiap kebaktian itu secara pribadi dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya, sehingga upacara tersebut tepat terutama bagi mereka.

Apakah ada tradisi upacara pembaptisan?

Lanjutkan membaca Soal-Jawab 7: Tradisi Religius

Soal-Jawab 5: Sejarah Agama Universalisme Tauhid

Apakah Universalisme Tauhid merupakan agama dari Amerika?

Asal-usulnya adalah Eropa dan Reformasi Protestan. Namun demikian, agama Universalisme Tauhid kontemporer ini merupakan agama yang lahir di Amerika, yang tumbuh dan berkembang di New England pada sekitar tahun 1750-1800 sebagai sempalan liberal dari Gereja Kongregasional (Congregational Church).

Apa sejarah agama Universalisme Tauhid (Unitarianism Universalism)?

Lanjutkan membaca Soal-Jawab 5: Sejarah Agama Universalisme Tauhid

Soal-Jawab 3: Kehidupan, Kematian, Keselamatan, Dosa

Seorang pendeta Universalis dari sebuah jemaat yang bising menjadi gemas lantaran pertengkaran di dalam rapat Dewan Pengurus. Dengan menyela mereka, ia menanyai para anggota Dewan apa makna Universalisme bagi mereka. Dalam hal ini, mereka sependapat, “Universalisme bermakna keselamatan universal; kita semua akan masuk surga setelah kita mati.”

Namun sang pendeta menukas, “Kalian tahu, seandainya saya adalah Tuhan, maka saya letakkan kalian di rumah-rumah yang saling berdekatan dan menjadikan kalian hidup bersama selama sejuta tahun atau lebih sampai kalian belajar bagaimana hidup berdampingan satu sama lain.”

Bagaimana Anda memandang kematian dan bagaimana Anda memandang hal ini memengaruhi jalan hidup Anda?

Pdt. F. Forrester Church mendefinisikan agama sebagai “tanggapan manusia terhadap dua kenyataan: sedang hidup dan akan mati.” Lanjutkan membaca Soal-Jawab 3: Kehidupan, Kematian, Keselamatan, Dosa

Soal-Jawab 2: Definisi Agama dan Perbedaannya

Apa sticker besar UT yang favorit?
“Bertanya adalah menjawab!”

Dalam pemikiran Anda, apa definisi “orang Kristen” menurut gereja-gereja pada umumnya?

Doktrin klasik Kristiani menerangkan bahwa orang Kristen ialah orang yang yakin:

* bahwa Tuhan, Allah, Sang Maha segalanya (atau apalah sebutannya) menampakkan [Diri] secara unik kepada manusia dalam pribadi Yesus Kristus;
* bahwa Yesus ialah Tuhan di Bumi, yang datang untuk menyelamatkan umat manusia dari keadaan berdosa sejak mereka lahir (Dosa Asal) melalui kematiannya di tiang salib (Penebusan Dosa), dan kemudian menaklukkan kematian (Kebangkitan Kembali). Dalam menanggapi tindakan Tuhan ini, manusia harus berterima kasih kepada-Nya, [dengan] menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka dan mendedikasikan kehidupan mereka kepada Yesus dengan mengikuti ajaran dan teladannya;
* bahwa mukjizat dapat terjadi melalui tuhan adikodrati yang bisa mengubah mekanisme alam.

Bagi orang-orang Protestan, otoritas bagi agama mereka adalah Alkitab. Bagi orang-orang Katolik, otoritasnya adalah Gereja Katolik.

Kekristenan Liberal (yang darinya [sekte Kristen] Tauhid (Unitarian) dan [sekte Kristen] Universalis berkembang) mengesampingkan atau menolak ide Dosa Asal dan memandang Yesus sebagai seseorang yang diutus oleh Tuhan untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menjalani kehidupan dengan lebih baik. Orang-orang Kristen Liberal lebih memandang Tuhan sebagai suatu kekuatan untuk kebaikan daripada sebagai sesuatu yang supernatural. Mereka lebih fleksibel dalam penafsiran kitab Injil, membacanya dengan lebih memperhatikan konteks sejarahnya, dan lebih sering memberi makna simbolis daripada tafsiran harfiah terhadap banyak pasal.

Apakah orang-orang UT (Universalisme Tauhid) itu orang Kristen?

Jawaban atas pertanyaan ini bervariasi di kalangan orang-orang UT. Sekte Tauhid dan sekte Universalis pernah menjadi bagian dari Kristen Protestan Liberal, tetapi kemudian menjauh dari landasan Kristiani mereka dengan menganut prinsip kebebasan iman individual. Saat ini, meskipun sebagian “gereja” UT masih Kristen liberal, hanya sekitar 20 persen dari orang-orang UT yang menyebut diri mereka orang Kristen. Jadi, Universalisme Tauhid ini tidak bisa dianggap sebagai agama Kristen sepenuhnya.

Bagaimana orang-orang UT dapat dibedakan dari orang-orang Kristen [pada umumnya]?

Lanjutkan membaca Soal-Jawab 2: Definisi Agama dan Perbedaannya

Soal-Jawab 1: Keimanan, Peryataan Iman, dan Doktrin

Kembalilah ke bangku doamu,
Dan simaklah pandangan baru kita:
Engkau lahir tanpa dosa
Maka angkatlah dagumu,
Kau hanya akan kehilangan doktrin.

Leonard Mason, Pemuka Agama UT

Apa yang diimani oleh orang Universalis Tauhid (UT)?

* Setiap individu hendaklah didorong untuk mengembangkan falsafah hidupnya masing-masing.
* Setiap orang mampu menggunakan akalnya.
* Tanpa organisasi, petugas, atau pun orang lain, kita masih mampu untuk mengetahui apa yang perlu kita imani.
* Kita mestinya bisa mengemukakan pendapat keagamaan secara terbuka tanpa takut akan sensor atau pun pembalasan dendam.
* Semua orang harus toleran terhadap pandangan keagamaan orang lain.
* Kebenaran tidaklah tetap, tetapi berkembang seiring dengan waktu.
* Setiap orang mestinya terus-menerus mencari kebenaran.
* Setiap orang memiliki hak yang setara terhadap kehidupan, kemerdekaan, dan keadilan.
* Rakyat seharusnya berkuasa atas diri mereka melalui proses demokrasi.
* Pandangan-pandangan mestinya terbuka untuk dikritik.
* Perbuatan yang bagus merupakan hasil alamiah dari iman yang bagus.

Nilai-nilai yang manakah yang Anda tempatkan paling tinggi?

Lanjutkan membaca Soal-Jawab 1: Keimanan, Peryataan Iman, dan Doktrin