Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Selama tiga dasawarsa terakhir, banyak komentator politik menganggap bahwa Amerika Serikat terbagi dua antara “kanan religius” dan “kiri sekuler”. Orang-orang yang pergi ke gereja, menurut gambaran media, ialah orang-orang yang anti-gay dan anti-feminis; mereka lebih menyukai kedermawanan pribadi daripada kesejahteraan publik; mereka mengibarkan bendera ketika Amerika Serikat mengirim pasukan ke luar negeri. Sebaliknya, orang-orang liberal digambarkan sebagai elit-elit kota-besar yang meremehkan doa yang penuh-perasaan, bahkan tak mau mengucap “Selamat Natal” secara ramah atau pun “Tuhan memberkati Amerika” secara patriotik.

Akan tetapi, orang-orang Universalisme Tauhid seringkali merasa berada di luar gambaran tersebut–dan begitu pula orang-orang Katolik Roma yang mempedulikan kemiskinan dan orang-orang Protestan yang mengkhawatirkan pemanasan global. Dengan banyak cara, gambaran tersebut mencerminkan pandangan keduniaan tentang gerakan politik yang tegas baru-baru ini, yaitu kanan-religius, yang menganggap bahwa siapa pun yang mempertanyakan literalisme [tekstualnya makna kata-kata] injil merupakan seorang sekularis yang putus asa. Namun kita pun yang berada di luar gambaran tersebut juga jarang mempertanyakan kebenarannya.

Lanjutkan membaca Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Iklan

Soal-Jawab 13: Sikap Universalis Tauhid terhadap Persoalan Masyarakat

Apakah “gereja” Universalis Tauhid (UT) mengambil sikap terhadap persoalan-persoalan masyarakat?

Ya. Setiap tahun di Sidang-Umum Asosiasi Universalis Tauhid (UUA: Unitarian Universalist Association) 2.500 delegasi memberi suara mengenai tiga atau empat resolusi yang relevan dengan masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan terkini. Walau suara pada resolusi-resolusi ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat setiap anggota “gereja” UT, resolusi itu menggambarkan pendapat UT. Selain itu, resolusi tersebut mendorong orang-orang UT untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai hal itu dan menjadi terlibat di tingkat lokal.

Para pemuka agama UT dan orang-orang UT lainnya seringkali mengambil sikap pula secara individual terhadap kebijakan-kebijakan publik yang kontroversial. Dua contohnya adalah Perang Vietnam dan wajib-militer untuk perang tersebut.

Meskipun kita membuat pernyataan kolektif dan mendorong tindakan tertentu, individulah yang pada akhirnya harus memutuskan sendiri sikapnya terhadap setiap persoalan masyarakat itu.

Mengenai persoalan publik yang manakah “gereja” UT mengambil sikap?

Lanjutkan membaca Soal-Jawab 13: Sikap Universalis Tauhid terhadap Persoalan Masyarakat