Muslim baik adalah manusia buruk; benarkah?

Berikut ini kutipan diskusi di Facebook kemarin antara dua orang: SA dan MM. Intinya, SA menuduh bahwa Islam itu salah dan buruk, tetapi MM menunjukkan bahwa tuduhan tersebut hanya berdasarkan asumsi dan persepsi, bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya. Kami mengutipnya secara utuh tanpa sensor.

Lanjutkan membaca Muslim baik adalah manusia buruk; benarkah?

Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Selama tiga dasawarsa terakhir, banyak komentator politik menganggap bahwa Amerika Serikat terbagi dua antara “kanan religius” dan “kiri sekuler”. Orang-orang yang pergi ke gereja, menurut gambaran media, ialah orang-orang yang anti-gay dan anti-feminis; mereka lebih menyukai kedermawanan pribadi daripada kesejahteraan publik; mereka mengibarkan bendera ketika Amerika Serikat mengirim pasukan ke luar negeri. Sebaliknya, orang-orang liberal digambarkan sebagai elit-elit kota-besar yang meremehkan doa yang penuh-perasaan, bahkan tak mau mengucap “Selamat Natal” secara ramah atau pun “Tuhan memberkati Amerika” secara patriotik.

Akan tetapi, orang-orang Universalisme Tauhid seringkali merasa berada di luar gambaran tersebut–dan begitu pula orang-orang Katolik Roma yang mempedulikan kemiskinan dan orang-orang Protestan yang mengkhawatirkan pemanasan global. Dengan banyak cara, gambaran tersebut mencerminkan pandangan keduniaan tentang gerakan politik yang tegas baru-baru ini, yaitu kanan-religius, yang menganggap bahwa siapa pun yang mempertanyakan literalisme [tekstualnya makna kata-kata] injil merupakan seorang sekularis yang putus asa. Namun kita pun yang berada di luar gambaran tersebut juga jarang mempertanyakan kebenarannya.

Lanjutkan membaca Bagaimana Agama Mengatasi Masalah Sosiopolitik di Amerika*

Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Dari Islam ke Universalisme Tauhid

oleh Hafidha Acuay

Sebagaimana hampir semua wanita yang menceritakan kisah mereka di [buku] Living Islam Out Loud: American Muslim Women Speak, saya belum secara sungguh-sungguh mempersoalkan agama yang diajarkan kepada saya sampai masa remaja-akhir saya. Dulu, saya seorang Islam yang taat. Pengalaman saya mirip dengan Samina Ali, yang menulis: “Saya dan teman-teman wanita saya berbincang-bincang dengan serius mengenai betapa beruntungnya kami terlahir dalam agama kami, karena semua orang di luar sana terlahir ‘buta’ dan lantaran pilihan mereka sendiri akan mati dalam keadaan ‘buta’.”

Masa kanak-kanak saya indah. Sedangkan masa remaja saya, walau terkadang merasa kesepian dan depresi, penuh dengan impian. Namun di masa dewasa-awal, ketika saya menjadi terbuka terhadap semakin banyak orang Islam dan terhadap munculnya aliran Islam yang keras yang dikenal sebagai Wahhabisme di Amerika Serikat, hati saya mulai tertusuk dan semakin tertusuk.
Lanjutkan membaca Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam