Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Dari Islam ke Universalisme Tauhid

oleh Hafidha Acuay

Sebagaimana hampir semua wanita yang menceritakan kisah mereka di [buku] Living Islam Out Loud: American Muslim Women Speak, saya belum secara sungguh-sungguh mempersoalkan agama yang diajarkan kepada saya sampai masa remaja-akhir saya. Dulu, saya seorang Islam yang taat. Pengalaman saya mirip dengan Samina Ali, yang menulis: “Saya dan teman-teman wanita saya berbincang-bincang dengan serius mengenai betapa beruntungnya kami terlahir dalam agama kami, karena semua orang di luar sana terlahir ‘buta’ dan lantaran pilihan mereka sendiri akan mati dalam keadaan ‘buta’.”

Masa kanak-kanak saya indah. Sedangkan masa remaja saya, walau terkadang merasa kesepian dan depresi, penuh dengan impian. Namun di masa dewasa-awal, ketika saya menjadi terbuka terhadap semakin banyak orang Islam dan terhadap munculnya aliran Islam yang keras yang dikenal sebagai Wahhabisme di Amerika Serikat, hati saya mulai tertusuk dan semakin tertusuk.

Di hampir sepanjang hidup, saya mencintai Allah dan bertaqwa kepada-Nya sebagaimana berulangkali diperintahkan oleh Al-Qur’an. Saya berbicara langsung kepadanya dan yakin bahwa Dia Mahatahu.

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga muslim yang beribadah. Kedua orangtua saya berpandangan moderat. Dengan dibesarkan di masyarakat Amerika, mereka sadar akan kenyataan hidup di tengah-tengah kaum non-muslim. Ayah saya mendalami hukum Islam, tetapi beliau tidak hendak menciptakan kembali Arabia abad-ketujuh. Ada banyak diantara teman-teman muslim kami yang penasaran mengapa kami mencoba menganut vegetarianisme dan menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman nonmuslim. Ketika saya dan ibu saya menutupi kepala kami dengan kerudung dan memakai baju yang longgar di depan umum, ayah dan saudara-saudara lelaki saya biasanya mengenakan kopiah untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai muslim juga. Ayah saya memakai jenggot untuk menutupi wajah beliau, tetapi meminta ibu saya untuk tidak lagi mengenakan cadar (penutup wajah) sejak pernikahan mereka lantaran mengundang banyak perhatian yang negatif. Kami menonton televisi, mendengarkan musik, dan memanfaatkan foto.

Kami juga beribadah secara teratur, dengan berpuasa sepenuhnya, bershalat sekhusyuk-khusyuknya, dan berzakat. Dari kedua orangtua, saya mendengar mengenai orang-orang muslim “gila” yang melakukan kekerasan di jalanan karena mereka telah memasuki Islam dengan segala kekasaran dan kebodohan pra-Islam mereka; orang-orang muslim penindas yang memandang istri dan putri mereka sebagai hak milik mereka; orang-orang muslim kaya yang memandang rendah kaum mualaf Amerika dan yakin bahwa semakin putih kulit seseorang, semakin baiklah orang itu. Saya telah mendengar semua itu, tetapi jarang menyaksikannya dengan mata saya sendiri. Ketika semasa dewasa-awal, saya mulai berhubungan dengan sebagian dari orang-orang semacam itu, sedangkan kedua orangtua saya mengingatkan saya untuk berhati-hati.

Pelarangan muslim terhadap musik, gambar makhluk hidup, dan gerakan pembebasan perempuan menyebabkan saya sedih. Walau kedua orangtua saya mendorong saya untuk bepergian ke segala penjuru sewaktu saya masih lajang dan belum beranak, orang-orang muslim lainnya memberi tahu saya bahwa seorang wanita seharusnya tidak pernah bepergian tanpa dijaga oleh pria [muhrimnya]. Mereka memuji pemakaian jilbab saya, tetapi mempersoalkan mengapa saya tinggal sendirian di apartemen saya sendiri. Bahkah setelah saya jelaskan bahwa saya tinggal sendirian itu supaya lebih dekat dengan komunitas muslim, mereka masih bla bla bla kepada saya. Saya dihargai lantaran menjadi muslimah yang sopan dan santun, tetapi saya saksikan bahwa wanita-wanita di komunitas saya disingkirkan lantaran mempertanyakan atau mengkritik pandangan seorang pria pemimpin [kami]. Lagi dan lagi, saya mulai melihat bahwa kepemimpinan muslim saya kurang peduli perihal merangkul [saudara sesama] muslim. Ia lebih cenderung memperkokoh kekuasaannya dan menyingkirkan orang lain yang dianggap mengancam kekuasaannya.

Sampai waktu yang lama, keluar dari Islam bukanlah opsi bagi saya. Sepengetahuan saya selama itu, tidak ada orang keluar dari Islam yang tidak dizalimi. Walau benar bahwa banyak orang tidak lagi beribadah, semua muslim kenalan saya bersikeras bahwa tidak ada yang benar-benar keluar dari agama ini kecuali jika mereka ditipu atau dipaksa oleh para misionaris. Segala hal yang saya baca mengenai pemurtadan merupakan kebenaran yang tak bisa disangkal saat itu.

Menjadi muslim di masyarakat tampaknya berbeda dengan menjadi muslim di keluarga saya, dan saya tidak tahu apakah komunitas saya ini benar-benar pas untuk saya. Saya tidak merasa bebas untuk berbicara menentang kebusukan-kebusukan di komunitas saya. Saya bahkan merasa takut meluruskan prasangka dan fitnah yang saya saksikan di kalangan pemimpin—meskipun semua orang tahu bahwa itu merupakan salah satu dosa besar dalam Islam, yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai “memakan bangkai saudaranya” (49: 12). Mengapa saya begitu takut? Secara bertahap, saya menjadi sadar akan adanya jurang pemisah antara menjadi muslim yang baik dan menjadi dianggap baik oleh orang-orang muslim.

Living Islam Out Loud mencakup limabelas esai dan sejumlah puisi yang merambah apa yang dimaksud dengan menjadi wanita yang dibesarkan sebagai muslimah dan sebagai orang Amerika. Beberapa esai itu hebat dalam melaporkan keamanan dan kenyamanan pengasuhan muslim dan peralihan kasar menuju masyarakat muslim dewasa yang jauh dari sempurna.

Bagi wanita-wanita yang diajar untuk percaya bahwa pernikahan yang baik merupakan prestasi terbesar mereka, tidaklah mengherankan bahwa retaknya hubungan mereka dengan suami mereka membuat mereka mempertanyakan makna kehidupan mereka. Para wanita ini mengungkapkan kekecewaan dan merasa dikhianati oleh Tuhan dan komunitas mereka, tetapi lambat-laun mereka memperbarui karakter mereka. Mereka mulai menyadari bahwa menjadi muslim yang baik bukanlah jaminan akan bahagia. Dalam upaya pembaruan diri itu, mereka harus membuka kembali hubungan mereka yang langsung dengan Tuhan dan saling bekerja sama, sehingga merintis jalur alternatif menuju impian muslim Amerika.

Sebagaimana wanita-wanita dalam Living Islam Out Loud, saya bangkit untuk mengatasi noda-noda yang mencemari keindahan Islam yang telah diajarkan oleh kedua orangtua saya. Impian saya adalah menjadi muslim sampai nafas terakhir, tetapi impian ini berangsur-angsur lenyap. Dari waktu ke waktu, saya menjumpai orang-orang muslim yang menakjubkan, yang memeluk iman mereka dengan benar, tetapi hampir semua diantara mereka menjauh dari “komunitas” muslim. Kalau begitu, apakah saya harus membesarkan anak-anak saya kelak dengan menjauh dari orang-orang Islam supaya iman mereka terpelihara? Ada sesuatu yang sungguh keliru dengan gambaran itu.

Tidak seperti wanita-wanita dalam Living Islam Out Loud, saya kehilangan iman saya. Perilaku orang-orang Islam yang berlebihan dan kontradiktif yang saya ketahui itu tidak dengan sendirinya menyebabkan saya keluar dari Islam. Namun, perilaku tersebut membuat saya mempertanyakan eksklusifitas Islam dalam mempengaruhi orang-orang secara transformatif. Saya telah membaca Tao Te Ching selama beberapa tahun dan mulai membawa buku tersebut di dompet saya, berdampingan dengan Al-Qur’an berukuran-saku saya. Buku tersebut menjadi pelipur lara saya juga. Saya sudah tahu bahwa orang-orang non-muslim bisa juga memiliki hikmah atau kearifan, tetapi yang paling membuat saya terpukul adalah temuan bahwa Al-Qur’an itu baru dihimpun menjadi satu pada beberapa tahun selepas wafatnya Rasul. Saya belajar bagaimana tradisi Rasul dihimpun–dan kini ada lebih banyak keraguan mengenai kesempurnaannya.

Karena saya kehilangan iman, saya memilih untuk tidak lagi tinggal di dalam Islam berjuang melawan Status Quo. Hal-hal yang saya inginkan untuk saya sendiri—yang saya mohonkan dari Tuhan sejak masa kanak-kanak saya—merupakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan keadaan menjadi muslim pada khususnya. Akhirnya, saya melompat ke Universalisme Tauhid seraya mencari suatu filsafat yang memungkinkan saya untuk mengenali dan menghidupkan nilai-nilai terdalam saya.

Yang paling saya ingat dari masa kanak-kanak saya adalah suara-suara di penghujung hari. Ibu-ibu memanggil anak-anak mereka yang sedang bermain, lalu saya berlambat-lambat di trotoar seraya melambaikan tangan pertanda berpamitan. Orangtua saya berseru, “Saatnya shalat!” Saat melintasi halaman, saya dapat mendengar suara air mengucur di bak, tutup periuk bergemerincing, dan ayah saya melantunkan azan shalat Maghrib.

Ruang shalat merupakan ruang terbesar di rumah kami. Lantainya merupakan kayu keras yang licin, tetapi saya, saudara saya, dan ibu saya berdiri untuk shalat di atas sehampar permadani Oriental di tengah. Ayah saya menjadi imam di depan kami, di atas selembar sajadah. Di sebelah kiri saya adalah dinding dengan buku-buku islami. Tanaman-tanaman ibu saya memenuhi sudut-sudut ruang. Kami menghadap ke timur; di musim panas, yang bisa saya lihat melalui jendela lebar hanyalah dedaunan pohon-pohon di halaman-belakang kami.

Ruang shalat tersebut selalu terjaga bersih dan wangi dengan dupa. Di situlah tempat shalat harian, pembacaan dan percakapan mengenai agama, dan doa. Duduk di atas permadani bersama-sama dan berbincang-bincang sebagai sebuah keluarga itu bagus. Saya sangat menyukai bunyi gemerisik dedaunan di luar sana dan hembusan angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela.

Sewaktu masih sebagai anak kecil, saya yakin sepenuhnya bahwa Islam merupakan sirat al-mustaqim, jalan lurus menuju keberhasilan dalam kehidupan ini dan kehidupan mendatang. Saya berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan senang menyimak cerita tentang para nabi, sahabat mereka, dan Hari Akhir. Keimanan saya kepada Allah semasa remaja saya masih kukuh, tetapi pada masa itulah pandangan-pandangan non-Islami mulai tertanam di dalam diri saya. Walau novel-novel karya Louisa May Alcott kesukaan saya (tokoh-tokoh utamanya ialah orang Kristen yang bijaksana, patuh kepada orangtua) tidak terlalu bertentangan dengan ajaran agama saya, acara televisi favorit saya ialah Star Trek: The Next Generation.

Saya dididik untuk percaya bahwa masa terbaik adalah zaman Muhammad yang kemudian memburuk dan terus memburuk hingga tiba Hari Kiamat. Ayah saya berbicara tentang akan datangnya [masa] kelaparan, wabah penyakit, gempa bumi, dan kebejatan di jalanan: Akan ada perang besar, lalu seorang imam agung muncul, kemudian Yesus kembali untuk menuntaskan kehidupannya di bumi dan mengalahkan Antikristus (ya, begitulah keyakinan seorang muslim), dan tercapailah kedamaian. Lalu sangkakala dibunyikan, dan Allah mengakhiri dunia ini. Kemudian semua jiwa dipanggil untuk menjalani pengadilan.

Walau itu semua sangat mengesankan, tidak tersedia banyak ruang bagi prospek perjalanan luar angkasa yang progresif, yang ditawarkan di film The Next Generation. Acara ini mengilhamkan suatu hasrat akan masa depan yang di dalamnya segala hal bisa terjadi, termasuk yang kini belum diketahui. Dengan berwatak optimistik, saya tidak tahu bagaimana menanggapi skenario kiamat dalam hadits Muhammad. Jika harus memilih antara [1] planet yang luluh-lantak akibat perang dan dirundung kekacauan dan [2] kehidupan sebagai direktur perusahaan besar [dalam dunia yang normal], tentu saja saya takkan kesulitan untuk memilih. Namun, tidakkah ini melecehkan Tuhan? Sebagai seorang remaja belia, saya tidak tahu bagaimana mengkompromikan harapan saya (bahwa manusia bisa belajar dari kesalahannya) dengan kebenaran yang dikatakan kepada saya: Umat manusia ditakdirkan mengalami kemunduran tanpa intervensi langsung dari Allah.

Kadang-kadang saya merasa penasaran apakah saya meninggalkan Islam hanya karena saya kekurangan imajinasi. Mungkin memang begitu, tetapi saya juga tahu saat itu bahwa saya tidak ingin menghabiskan sisa umur saya dengan berdebat—untuk membela diri saya sendiri menghadapi kaum muslim konservatif dan membela Islam menghadapi nonmuslim.

Islam kelihatannya meletakkan saya ke dalam sebuah kota, dengan label-label yang berlainan di setiap sisi bagi mereka yang memandang saya dari sudut-sudut pandang yang berlainan. Apakah Universalisme Tauhid meletakkan saya ke dalam sebuah kotak juga? Islam yang saya alami tidak selalu menghargai saya selaku seorang anak gadis Amerika berkulit hitam yang mualaf: Saya dipandang dengan sebelah mata oleh semua orang Islam yang merasa pasti lebih baik daripada saya lantaran mereka berasal dari suatu masyarakat muslim yang berbicara dalam bahasa Arab, atau lantaran tidak berkulit hitam.

[Saya pun bertanya-tanya:] Mengapa semua rasul itu laki-laki? Mengapa saya harus meminta izin kepada pria-pria yang diberi wewenang? Mengapa kedua orangtua saya yang merupakan buruh kurang dihargai oleh keluarga teman-teman saya yang “berkerah-putih”?

Kini saya harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah Universalisme Tauhid (UT) menghargai saya? Dapatkah agama ini menghargai saya, seorang Latin berkulit hitam yang tidak banyak percaya kepada Tuhan? Di manakah pahlawan-pahlawan [penolong] saya? Di manakah tradisi UT yang melestarikan kebudayaan saya, leluhur saya?

Akan tetapi, sekarang saya tidak lagi berharap untuk menjadi “normal”. Menjadi pemeluk agama UT tidak memecahkan masalah-masalah saya, tetapi memungkinkan saya untuk menjalani hidup dengan harapan. Universalisme Tauhid adalah agama yang dapat berubah. Masa lalunya bukanlah pencetak masa depannya. Ajarannya dapat berkembang. Bila saya merasa ganjil dalam komunitas [UT] yang saya ikuti, saya dapat berbicara dengan terus terang. Kemungkinan-kemungkinan selalu terbuka; masa depan terbuka bagi kita. Itulah keimanan yang dapat saya peluk.

————
Diterjemahkan oleh M Shodiq Mustika dari Hafidha Acuay, “From Islam to Unitarian Universalism” dalam UU World, Summer 2006.

Diterbitkan oleh

Jerami Community

a congregation of Unitarian Universalist Muslims using Indonesian language

283 tanggapan untuk “Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam”

  1. Pendapat Anda mencerminkan siapa anda sesungguhnya, bukan mencerminkan agama yang ada.Hati-hati dalam mengeluarkan pendapat “Mulutmu harimaumu”.Tks.

  2. Setuju sekali Cak Lontong. Di era liberalisasi segala tatanan ini semakin banyak orang ngomong tanpa dasar landasan ilmu yang memadai. Kepada saudara2ku umat Islam, berpegang teguhlan anda sekalian kepada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah, Insya Allah selamat dunia akhirat.

  3. ini jaman sudah mulai rusak tatanan,,Peran media dalam merusak dan memojokkan islam begitu gencar dengan sokongan dana yang tak terhitung nilainya..beruntunglah orang2 yang Optimis bersabar dan tetap tersenyum memegang agama yang lurus..Perhatikanlah kejadian2 orang/kaum yang terdahulu..contoh (silahkan Googling) banyak di temukan Mayat yang Utuh nan Wangi setelah sekian puluh tahun di kubur…jadi jangan terkecoh dengan imajinasi ngawur kita..Kubur-lah tempat kembali kita.. tetap sabar dan Tawaddu’…

  4. peristiwa ini sama kayak pepatah “marah sama tikus tiang yang dibakar, artinya kesalahan tafsir seseorang dalam memahami agama tapi malah agamanya yang di pecundangi, wah…parah !!!

  5. Itu kan Keinginan Orang Sahabat-Sahabatku!
    Dihargai lah! Sama Seperti Orang Masuk Sekolah Tapi di kucilkan!
    Mungkin itu yang Dia Rasakan jadi Tak apa!
    Bagaimana Cara Agar Dia Merasa Tenang (Tapi tak Berbuat Dosa Tak apa lah)

  6. setiap ada orang yang mau membuka diri dan pintar,, bebas sebagai manusia. selalu dianggap dosa, jahat, neraka dll. saya dukung penulis ini. Tuhan segala agama . segala semesta. begitu kecil kalau hanya memanjakan suatu negara bahkan suku dan ras. maju terus. gelombang kebenaran menyapu bersih yang ada

  7. Saya sangat setuju dengan penulis, setiap manusia dapat memiliki keyakinan yang dianggap benar. TUHAN selalu menyayangi seluruh umat manusia tanpa memandang keyakinannya jika manusia selalu berbuat baik dan mengasihi sesama manusia tanpa membedakan ras, agama, atau warna kulitnya.

  8. Saya sangat setuju dengan penulis, setiap manusia dapat memiliki keyakinan yang dianggap benar. TUHAN selalu menyayangi seluruh umat manusia tanpa memandang keyakinannya jika manusia selalu berbuat baik dan mengasihi sesama manusia tanpa membedakan ras, agama, atau warna kulitnya . Salut kepada penulis.

    1. Kepada Yth. Bapak/Ibu Jo,

      Pernyataan tersebut benar bahwa manusia diberi kelebihan akal fikiran untuk mengenal lingkungan dan alam sekitar termasuk dirinya sendiri.
      Justru dengan berfikir lebih dalam, semua akan kembali kepada Allah subhanahu wataala sebagai Pencipta alam semesta dan seisinya, termasuk seluruh manusia.

      Allah sebagai Tuhan pasti jauh lebih kuat, perkasa dan kuasa dibandingkan manusia.
      Matahari juga adalah ciptaan Allah termasuk juga milyaran bintang di galaksi Milky way serta milyaran galaksi lainnya.

      Dari sudut pandang ini, tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi apabila Tuhan dapat dikalahkan bahkan mati oleh manusia.

      Allah tidak membeda-bedakan suku ras jabatan kedudukan bahkan karena keturunannya.
      Yang membedakan di hadapan Allaah adalah keyakinan dan amal ibadahnya.
      Maka keduanya jangan sampai salah dalam memilih siapa sebenarnya Tuhan dan selanjutnya amal kebaikan tercermin dalam kehidupan pribadinya setiap hari.

      Semoga bermanfaat sebagai bahan renungan.

      Salam..

  9. Life is temporary, semoga Allah SWT. memberikan hidayahNya untukmu dan menjaga keimanan kita semua wahai saudara-saudaraku.

  10. manusia tidak dapat mengenal Sang Penciptanya secara baik kecuali Sang Pencipta yang menyatakan diri-NYA pada manusia.

  11. kehidupan adalah jalan jalan dan oleh oleh dari jalan jalan itu tentunya kita sendiri yang akan menikmati, penulis telah memilih oleh olehnya sendiri…..
    hanya kasih saran saja dunia ini adalah perbaikan berkelanjutan yaitu yang dulu diperbaiki yang saat ini dan saat ini akan diperbaiki yang akan datang…..
    keyakinan punya masa atau waktu masing masing saa Nabi Adam tentunya hukum masa Nabi Adam yang berlaku, saat Nabi ibrahim ya tentunya hukum masa Ibrahim yang berlaku, masa Nabi Isa ya tentunya hukum Nabi Isa yang berlaku ya… sekarang masa Nabi Muhammad ya tentunya ….. anda tahu yang saya maksudkan
    seperti itulah dunia…..
    contoh saat ini presiden Indonesia Joko Widodo tentunya pemerintahan Joko Widodo yang berlaku bukan, masa kita harus terus memngikuti pemerintahan suharto, megawati dll…
    tidak bukan….
    maaf ini pikiran yang sederhana saja lho…

    1. To: Samodra

      Kalau cara pandang saudara seperti itu, berarti Allah dan FirmanNya adalah tidak kekal. Sedangkan semua manusia pasti setuju kalau Tuhan itu kekal.

      Di Alkitab tertulis:

      Pada mulanya adalah Firman. Dan Firman itu adalah Allah.
      Jadi;
      Allah adalah kekal.
      maka seharusnya ;
      Firman (Allah) maknanya juga kekal
      Jadi Alkitab pun isi ayatnya kekal dan maknanya tidak berubah.
      Bagaimana mungkin Allah bisa menyatakan diriNya kekal bila ayat yg diberikanNya Alkitab (Taurat, Zabur, Kitab Raja2, Kitab Para Nabi, Kitab Sulaeman, Injil, Kitab Para Rasul) hanya limited edition dan berubah?

      1. sambungan;

        Menurut saya karena Alkitab sang Firman Allah adalah kekal, bisa saja Tuhan menurunkan Kitab2 baru sesuai untuk orang2 dimannya, ASAL isi kitabnya tidak menyeleweng dgn isi kekal Alkitab yg sudah ada sebelumnya.
        Tapi kenyataanya isi kitab yg bermunculan sesudahnya menyeleweng dari makna isi Alkitab yg kekal.
        Jadi artinya?

  12. ASSALAMUALAIKUM WRB.
    SUNGGUH KAFIR YANG MENULIS CERITA INI. IA LEBIH MEMILIH HIDUPNYA DARIPADA KEPENTINGAN SEMBAHAN KEPADA ALLAH. KALAU ANDA EMANG ISLAM DLUNYA, PASTI TAU KALO KRISTEN ITU KAFIR. SEMOGA ALLAH SWT MENGAMPUNIMU.

    SALAM

  13. Al quran di susun bbrp tahun setelah Muhammad SAW wafat dan team penyusun adalah sahabat2 nabi penghapal quran yg tahu aspek psikososial saat ayat quran diturunkan. Plus di tunjang dgn tulisan Al quran lengkap peninggalan jaman nabi berupa suhuf sujud.
    Kitab selain Al quran di susun bukan cuma bbrp tahun, tp bbrp puluh bahkan ratusan tahun setelah nabinya wafat…..makanya terjadilah beberapa versi berbeda ttg isi dan ayat ayat kitab sucinya (sampai berpuluh-puluh) ( baca sejarahnya yg netral yaa)

    Saya pernah baca kalo ilmuwan yang menemukan “bumi itu mengelilingi matahari” matinya di bakar atas perintah paus Vatikan karena di anggap telah menentang ayat injil. Tp belakangan ternyata ilmuwan itu benar. Dan 200tahun kemudian Vatikan minta maaf setelah sebelumnya mengoreksi terlebih dahulu ayat yang salah tadi(lho ko ayat tuhan bisa berubah sih ?)
    MAKANYA SETELAH SAYA MENJADI ISLAM,SAYA TETAP YAKIN ISLAM ITU BENAR ADANYA,BUKAN REKAAN MUHAMMAD.

    1. Kepada Bapak/Ibu Kristin..

      Alhamdulillaah selamat datang di jalan kebenaran.
      Pada zaman Nabi Muhammad, para sahabat sudah mampu menghafal Al Quran dan ada beberapa sahabat yang menuliskannya pada pelepah kurma, batu, daun lontar, kulit dan lain-lain seperti sahabat Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan lain-lain.

      Selanjutnya zaman Kholifah Abu Bakr, beliau memerintahkan shohabat Zaid untuk mengumpulkan tulisan-tulisan berdasarkan yang standar hafalan untuk disusun menjadi satu mushaf hingga disimpan olehpenerusnya sahabat Umar.

      Semenjak zaman kholifah Usman, mushaf standar AL Quran mulai diperbanyak dan dikirim ke berbagai daerah seperti Mekkah, Madinah, Syam, Bahrain, Kuffah dan lain-lain.

      Allah telah berjanji menjaga kitab suci Al Quran yang buktinya hingga sekarang, tidak ada perbedaan walau satu kata pun dalam Al Quran dari yang ada di seluruh dunia.

      Semoga semakin istiqomah, petunjuk hidayah Allah datang kepada siapa saja yang dikehendaki Allaah.

      Barokallaah..

      Anoeng

  14. Saya juga bingung sama seperti yg penulis jabarkan.. sebenarnya saya tidak masalah dgn islam sebagai agama sy tetapi pemeluk islam sekitar saya selalu membuat heran. memusuhi/menghina non muslim, menganggap diri selalu benar, diskriminasi perempuan dsb. baru” ini saya lebih tertarik dengan ajaran budha khususnya dalai lama yg lebih pas ke diri saya. tp sy tidak ingin murtad. bisakah saya menjadi seorang muslim dengan mengidolakan seorang biksu?

    1. Kepada Yth Hamba Allah,

      Bismillaah,
      Mungkin bapak/ibu sedang dalam keadaan galau akibat situasi bangsa sekarang ini di maan sebagian saudara muslim kita terjerumus dalam tindakan menjelekkan, mencaci agama lain.

      Perlu kiranya difahami bahwa Islam diturunkan ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Ajaran Islam juga menekankan toleransi seperti dalam surat Al Kafirun yang sudah umum bunyinya

      Lakum dinukum walia diin
      Bagimu agamamu dan bagiku agamaku
      (Merupakan prinsip dasar toleransi beragama)

      Ajakan berdakwah secara damai, surat An Nahl 125
      Ud’u ilaa sabiili robika bil hikmati…

      “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

      Jadi ajaran Islam sendiri telah memerintahkan kita semua untuk berdakwah secara baik dan damai. Tidak menyinggung perasaan orang lain.

      Mengapa kecenderungan sekarang telah berubah?
      Ini merupakan fenomena sosial akhir-akhir ini, tapi yang jelas hal tersebut tidak mencerminkan orang Islam secara keseluruhan, hanya sebagian kecil.
      Kemungkinan akibat kurangnya dakwah yang membahas hablum minan naas..
      Tugas kita untuk mengingatkan agar kembali ke jalan yang lurus.
      Melatih kesabaran dan menjagha perasaan orang lain.

      Masih banyak kaum muslimin di daerah yang tetap berpegang teguh dengan cara-cara yang damai.

      Untuk mengidolakan seseorang yang perfect atau sempurna, mengapa tidak Nabi Muhammad malah Dalai Lama. Beliau Kanjeng Nabi Muhammad juga mencontohkan bagaimana saat dakwahnya sampai dilempar kotoran tapi beliau tidak membalas.
      Selanjutnya si penyerang sakit, beliau Nabi Muhammad malah menjadi orang pertama yang menjenguknya.

      Idola dalailama secara normal tidak masalah sebagaimana mungkin kita mengidolakan bintang film seperti keanu reeves dan lain-lain.

      Namun idola utama tetaplah Kanjeng Nabi Muhammad.

      Dan masih banyak akhlaq karimah beliau lainnya, yang mana kita mesti lebih banyak belajar tentang Islam.

      Semoga iman Islam kita semakin mantab, tidak goyah, tidak ragu.
      Tetaplah berpegang teguh bahwa Allah adalah Tuhan Yang Satu dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

      Semoga bermanfaat.
      Barokallaah..

  15. Secara garis besar kisah yang dibuat ini hanya ingin menggoyang iman kaum muslimin ..dimana muslim ditampilkan sebagai sosok penuh dengan kekerasan dan kolot yg sering dimunculkan oleh media barat untuk menjelekan islam…saya menghimbau umat muslim tidak terpengaruh sedikitpun dengan kisah ini .Tetaplah berpegang pada kebenaran Alqur’an dan hadist..yg selaras dengan akal dan pikiran manusia dan tidak pernah berubah sampai hari qiyamat..dan jangan sekali sekali terpengaruh pada gemerlapnya dunia yg hanya sesaat ini.

    1. Alhamdulillah arya, telah mengingatkan kita smua kaum muslim jangan tertipu dengan sikap dan perilaku non muslim,kita diwajibkan memilih wali muslim dan dilarang memilih pemimpin non muslim, adapun jika disekitar kita banyak muslim terpengaruh perbuatan buruk bukan berarti lantas idolanya kepada non muslim justru kita harus berpegang teguh dan bertaqwa hanya kepada Allah dan Nabi Muhammad sebagai idola umat islam wassalam

  16. dari kisah ini saya baru tahu kalau Al-Quran terbentuk seperti sekarang setelah Nabi Muhammad SAW wafat dibukukan oleh para sahabat Nabi.
    Walaupun sempat ada keraguan terhadap keaslian AL-Quran karena pembukuan tidak dilakukan pada zaman Nabi.
    Keraguan muncul karena takut adanya penambahan/pengurangan keaslian AL-Quran yang sesungguhnya seperti Al-Kitab yang telah melenceng (adanya penambahan/pengurangan) dari kitab Injil Nabi Isa As yang asli.
    Akan tetapi setelah saya renungi bahwa Allah SWT akan senantiasa menjaga keaslian Al-Quran dari kerusakan hingga akhirnya tiba.
    Dari sekian banyak kitab suci yang paling terjaga kemurniannya hanyalah Al-Quran tidak seperti kitab yang lain yang selalu berubah2 dimana ada versi lama dan versi baru (dari situ sudah jelas kalau itu bukan firman Tuhan melainkan manusia).

  17. Seseorang murtad krn BELUM sampai kepada Ilmu pengetahuan yang sampai ketingkat keyakinan yang mutlak dalam mengesakan Allah. Penghayatan Kepercayaan KepadaTuhan Yang Maha Esa, Bagi Yang telah Dapat Menyaksikan Nur Allah.

    Selanjutnya silahkan baca ulasan perihal tingkat keimanan/keyakinan seseorang sbb.:
    KEYAKINAN merupakan hak yang dimiliki individu dalam mempercayai suatu hal yang diyakininya, baik itu keyakinannya terhadap benda, manusia, maupun terhadap Sang Pencipta. Keyakinan terhadap Sang Pencipta (Allah) haruslah menjadi dasar keimanan seseorang dalam perannya sebagai hamba Allah SWT. Adapun tingkat keyakinan yang harus dimiliki seseorang diantaranya:

    Ilmul-Yaqiin

    Prasyarat untuk tingkat kepastian ini adalah ‘ilmu/pengetahuan’. Istilah Bahasa Arab untuk ‘ilmu’ adalah ‘ilm dan Bahasa Arab untuk ‘kepastian’ adalah ‘ yaqiin’. Dengan demikian istilah Arab yang digunakan oleh Al-Qur’an untuk kepastian yang berdasarkan pengetahuan adalah ‘ ilmul-yaqiin .

    “Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin”.(QS. At-Takatsur: 5)

    Pada tingkat ilmul-yaqiin, orang beriman dan para pencari Tuhan yakin kepada Tuhan (Allah SWT) bukan karena merasakan langsung wujud-Nya, namun berdasarkan deduksi dari fakta-fakta yang terletak dalam batas-batas pengetahuannya. Pada dasarnya ia percaya pada hal ghaib yang dalam istilahnya adalah ‘imaan bil Ghaib, yang berarti ‘percaya pada yang ghaib’. Orang pada tingkat ini dianalogikan seperti api dan asap. Ia memang belum melihat api itu sendiri, tetapi setelah menyaksikan asap, ia berkesimpulan bahwa api memang harus ada.

    ‘Ainul-Yaqiin

    Istilah bahasa Arab untuk ‘melihat’ adalah ‘ain, karenanya Bahasa Arab untuk ‘kepastian berdasarkan pengataman/kesaksian’ adalah ‘ainul-yaqiin.

    ” …Kemudian kamu pasti akan melihatnya dengan mata yakin.” (QS. At-Takatsur: 8)

    Ayat ini menarik perhatian kita pada fakta bahwa pada tingkat ainul-yaqiin, seorang beriman yakin kepada Allah SWT dengan cara apa yang secara kiasan disebut dengan ‘melihat secara langsung’ (direct perception)” penampakan-Nya. Bagi manusia, yang indera fisiknya hanya menanggapi stimulus materi, menyaksikan penampakan-Nya jelas bukan dalam arti pertemuan fisik dengan wujud Allah SWT.

    Menyaksikan penampakan Allah SWT hanya dapat berarti menjadi saksi akan manifestasi Keilahian-Nya yang nampak dengan jelas. Masifestasi tersebut meliputi penerimaan ajaib dari doa- doanya dan ‘penyatuan ilahiah’. Doa-doa orang beriman mulai menemukan pengabulan yang berlimpah. Ketika ia berdoa untuk sesuatu, ia menemukan limpahan karunia Ilahi mengarah pada doanya.

    Oleh karena itu pada tingkat kepastian ini, orang beriman tidak lagi bergantung pada kesimpulan logis mengenai keberadaan Allah SWT. Pada tingkat ini, seolah-olah ia telah melihat sendiri Allah SWT dengan mata kepalanya sendiri. Meskipun keadaan ‘iman bil ghaib’ terus berlaku, orang beriman menjadi lebih dekat lagi dengan dunia ghaib daripada ketika ia berada pada tingkat ilmul-yakiin.

    Haqqul-Yaqiin

    Bahasa Arab untuk “kebenaran mutlak” (absolute truth) adalah Haqq. sedangkan bahwa Arab untuk kepastian seperti yang telah kita bahas adalah Yaqiin. Oleh karena itu istilah Haqqul Yaqiin menunjukkan tingkat kepastian yang sempurna tentang Tuhan.

    “Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.”

    (QS. Al-Waqiah :95)

    Pada tahap ini orang beriman yakin kepada Allah SWT karena ia telah merasakan sifat-sifat Allah SWT secara lebih lengkap, seolah-olah semua cara persepsi yang tersedia baginya telah sampai pada hubungan langsung dengan Keindahan dan Kemuliaan Allah SWT. Pada tahap ini orang beriman telah diberkati dengan limpahan yang lebih besar berupa wahyu Ilahi. Pada tahap ini, doa sang pencari Tuhan begitu derasnya diterima dan dijawab, dimana setiap doa menjadi sebuah keajaiban dalam dirinya sendiri. Nabi Allah SWT dan orang-orang suci berada dalam wilayah kepastian agung ini. Ini adalah tingkat tertinggi dari iman dan kepastian.

    Dengan kita mengetahui tingkatan keyakinan seperti yang telah di paparkan di atas, semoga menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Aamiin. [Reni Fatwa/islampos]

  18. alasan penulis memutuskan menjadi murtad sangat memprihatinkan..anda hanya memandang ajaran agama Islam dari perlakuan keji/salah segelintir orang yang mengatas namakan Islam..saya yakin pengetahuan anda mengenai Islam sangat dangkal sehingga anda justru membelokan jalan anda yang sebenarnya sudah lurus..pelajarikan Islam dengan hati dan pikiran anda seutuhnya Insya Allah anda mendapatkan jawaban sebenarnya..Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, ajaran Islam mengajarkan kedamaian..gunakan Al Quran sebagai pegangan hidup , karena isi Al Quran 100% jaminan kebenarannya dan tidak perlu ada revisi sampai kapanpun..Allahu Akbar..

  19. Assalamuallaikum,,,,

    Murtadin
    Sesungguhnya hati dan jiwa kalian telah takut karna kalian telah mengingkari agama dari tuhanmu Allah,,,
    Ajaran dari rosulmu Muhammad
    Kenapa sampai aku berkata seperti ini , karna sesungguhnya kalian telah tau bahwa tiada zat yg pantas di sembah selain Allah dan nabi muhammad adalah utusan Allah.

    Doaku untuk aku dan kaum muslimin muslimah sejagat ini berdoalah agar Allah selalu menjaga kita dari godaan setan dan iblis,,,,,

  20. Tuhan tidak mungkin bercakap cakap dgn manusia.kecuali klaim kitab suci saja bhwa tuhan bercakap2 dgn org yg mengaku bertemu tuhan tanpa saksi nyata…saksinya juga ga kasat mata….ketika tuhan bercakap2 maka tuhan sudah memasuki ruang waktu…tuhan yg suka marah dan narsis adalah rekaan manusia.tuhan tidak mungkin memiliki emosi yg dipengaruhi perilaku manusia.

  21. Harusnya Manusia yg Mengikuti Alquran bukan sebaliknya, dan rasakan sendiri Akibatnya sudah Iman lemah ditambah guru ngaji tak Ada.😀

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s