Manakah agama damai & agama kekerasan?

Untuk apa kita bicarakan agama damai & agama kekerasan?

oleh Jeff Wilson

Ellawala Medhananda yang terhormat, seorang pendeta Buddha Srilanka terkenal, berkata dengan terus terang. Saat berbicara dengan Reuters pada Februari [2006], ia nyatakan: “Kalau Prabhakaran tewas, Sri Lanka menjadi tempat yang lebih baik. Ia menghambat proses perdamaian. Kita seharusnya mencampakkan pengaruhnya dari masyarakat.”

Medhananda, pemimpin partai politik Buddhis nasionalis, menyerukan pembunuhan terhadap Velupillai Prabhakaran, seorang pemicu utama konflik etnik dan keagamaan yang telah menewaskan lebih dari 60.000 orang di Sri Lanka. Menurut sejumlah orang, Prabhakaran ialah seorang teroris Hindu yang mengancam demokrasi Sri Lanka; namun menurut sejumlah orang lainnya, dia seorang pejuang kemerdekaan yang berupaya mencapai keadilan untuk kaum minoritas Tamil yang tertindas. Sementara itu, dengan adanya [ancaman] pembunuhan dari kalangan muslim [terhadap orang-orang yang harus bertanggung jawab atas] kartun [yang dipandang melecehkan Nabi Muhammad], sekarang mungkin saat yang tepat untuk merenungkan “debat kusir” seputar kekerasan dan agama di dunia modern.
Lanjutkan membaca Manakah agama damai & agama kekerasan?

Iklan

Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Dari Islam ke Universalisme Tauhid

oleh Hafidha Acuay

Sebagaimana hampir semua wanita yang menceritakan kisah mereka di [buku] Living Islam Out Loud: American Muslim Women Speak, saya belum secara sungguh-sungguh mempersoalkan agama yang diajarkan kepada saya sampai masa remaja-akhir saya. Dulu, saya seorang Islam yang taat. Pengalaman saya mirip dengan Samina Ali, yang menulis: “Saya dan teman-teman wanita saya berbincang-bincang dengan serius mengenai betapa beruntungnya kami terlahir dalam agama kami, karena semua orang di luar sana terlahir ‘buta’ dan lantaran pilihan mereka sendiri akan mati dalam keadaan ‘buta’.”

Masa kanak-kanak saya indah. Sedangkan masa remaja saya, walau terkadang merasa kesepian dan depresi, penuh dengan impian. Namun di masa dewasa-awal, ketika saya menjadi terbuka terhadap semakin banyak orang Islam dan terhadap munculnya aliran Islam yang keras yang dikenal sebagai Wahhabisme di Amerika Serikat, hati saya mulai tertusuk dan semakin tertusuk.
Lanjutkan membaca Kisah Nyata: Mengapa Hafidha Acuay Murtad dari Islam

Gereja adalah orang-orang (oleh Janet H. Bowering)

Gereja adalah orang-orang. Ia bukanlah sebuah badan keyakinan, seperangkat prinsip, atau pun susunan batu, kayu, dan kaca yang mengesankan. Gereja memiliki akar-akarnya di masa lalu, tak peduli seberapa-baru jemaatnya dikelola. Gereja itu menunjukkan suatu proses panjang orang-orang yang berkehendak bekerja dengan orang lain menuju tujuan bersama, beribadat dengan orang lain yang berkepercayaan serupa, dan memuliakan orang-orang terdahulu yang bijaksana dan pemberani.

Lanjutkan membaca Gereja adalah orang-orang (oleh Janet H. Bowering)

Uniknya agama Universalisme Tauhid

Robert Fulghum
Robert Fulghum
Berikut ini bagian dari percakapan di sebuah toko [yang melibatkan seorang pemuka agama Universalisme Tauhid]:

“Pak Fulghum, benarkah Anda seorang pendeta?”

“Ya.”

“Di manakah gereja Anda?”

“Kita sedang berdiri di dalamnya.”

“Tapi ini toko buku dan sekarang hari Jumat.”

“Ya, tetapi bisa pula Anda menganggapnya sebagai katedral spirit manusia — sebuah rumah-toko pengabdian bagi semua pengalaman manusia yang beraneka-macam. Hampir semua gagasan hebat manusia ada di sini. Tempat yang mengandung pemikiran hebat merupakan tempat suci.”

“Oh, ya? Anda ini pendeta dari aliran agama apa?”

“Universalisme Tauhid (Unitarian Universalism).”

“Dan Anda mengadakan kebaktian di tokobuku-tokobuku pada hari Jumat?”

Lanjutkan membaca Uniknya agama Universalisme Tauhid

Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani

Belajar dengan Hati Nurani — Sophia Lyon Fahs

Sophia Lyon Fahs
Sophia Lyon Fahs

oleh Polly Peterson

“Mama, Mama, kapan kita sampai di tujuan?” tanya Sophia kecil. Bersama dengan keluarganya, ia melintasi luasnya Samudera Pasifik di atas sebuah kapal besar yang berlayar ke Amerika. Sophia Lyon, si gadis Amerika yang saat itu berumur tiga setengah tahun, menempuh perjalanan ke Amerika untuk pertama kalinya. Ia dan kakak-kakaknya lahir di China, tempat yang di situlah ayah mereka menjadi pendeta Kristen evangelis dan ibu mereka menjadi pendiri sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan China.

Lanjutkan membaca Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani

Pendidikan Seksual Yang Religius

Agama Universalisme Tauhid (UT) berdiri di Jalan Cinta, bukan di Jalan Takut dan Malu. Namun rasa takut dan malu, di samping kezaliman dan penderitaan yang menyertainya, kini semakin memburuk dan merajalela di kebudayaan kita, terutama dalam urusan seksualitas manusia–kesetaraan dalam pernikahan, hak perempuan untuk memilih, akses terhadap kontrasepsi, dan pendidikan seksual.

Lanjutkan membaca Pendidikan Seksual Yang Religius

Debat Yang Menyenangkan

Selaku Wakil Pemuda di Dewan Perwakilan jemaatnya, Alexander Askew menggunakan keterampilan debatnya untuk memastikan bahwa sudut pandang pemuda dimasukkan dalam putusan-putusan yang dibuat. “Bahkan walau saya merasa terintimidasi ketika orang-orang dewasa berbicara mengenai anggaran, dan hal-hal lain seperti itu, saya menggunakan pengalaman saya di tim-debat untuk berbicara.”

Ia sangat menyukai debat karena “untuk menjadi pendebat yang baik, Anda harus mampu memperdebatkan persoalan dari kedua pihak, yang berarti benar-benar memahami sudut pandang pihak lain, sehingga pada akhirnya Anda sungguh-sungguh mengerti apa yang Anda yakini dan memiliki kemampuan untuk menerima keyakinan orang lain bahkan bila Anda tidak setuju.

Lanjutkan membaca Debat Yang Menyenangkan