Titik Temu antara Islam dan Universalisme Tauhid

Dalam Islam, kaum muslimin telah mencari Tuhan secara historis. Kitab suci mereka, Al-Qur’an, memberi mereka suatu misi historis. Tugas utama mereka adalah menciptakan masyarakat yang adil yang secara mutlak menghargai semua warga, termasuk yang lemah dan rentan. … Pengalaman membangun masyarakat semacam itu dan pengalaman hidup di lingkungan seperti itu akan memberi mereka [rasa] kedekatan ilahi. … Setiap muslim harus bersifat historis. Maksudnya, urusan negara tidaklah jauh dari spiritualitas, tetapi [bahkan merupakan] salah satu bagian dari agama itu sendiri. Bagi mereka, kesejahteraan umat Islam merupakan urusan terpenting secara politik.

Demikianlah penjelasan Karen Armstrong pada “Kata Pengantar” bukunya, Islam: A Short History. Buku ini lebih ditujukan kepada kita, khalayak luas, daripada kalangan akademis. Sepanjang 222 halaman, ia dengan gamblang merangkum perkembangan agama Islam dan kaum musimin. Yang terpenting, ia menegaskan perbedaan pandangan keagamaan antara orang-orang Islam dan orang-orang Barat pada umumnya, kecuali yang menganut Universalisme Tauhid (Unitarian Universalism) [dan sekelompok minoritas lainnya].

Untuk memahami Islam, kelirulah kita kalau memandangnya hanya sebatas [aturan] peribadatan. Bagi muslim [dan bagi penganut beberapa agama lain], agama adalah jalan hidup; dan para pengikut Allah tersebut berkehendak membangun masyarakat atau umat yang berlandaskan keadilan, kesetaraan, dan kasih-sayang, yang serupa dengan prinsip-prinsip Universalisme Tauhid.

Landasan Islami tersebut perlu disadari oleh orang-orang yang hendak memahami fundamentalisme Islam masa kini. Syukurlah, Armstrong sejak awal sudah menjelaskan bahwa fundamentalisme itu tidak hanya terdapat di kalangan pemeluk Islam. Nilai-nilai dasar yang dianut oleh para fundamentalis Islam (penolakan terhadap demokrasi, sekularisasi, emansipasi wanita, dsb.) dianut pula oleh para fundamentalis pada agama-agama lainnya.

Selain buku karya Armstrong itu, patut dibaca pula buku 366 Readings from Islam: The Global Spirit Library yang disusun oleh Robert Van de Weyer. Buku bacaan harian ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan meditasi, melainkan juga sebagai kuliah singkat untuk memahami Islam. Intinya, para penulis di buku ini mengingatkan kita bahwa Islam bukanlah agama kekerasan seperti yang sering ditayangkan di media massa. Islam adalah agama keadilan, keindahan, dan keagungan.

*Postingan ini merupakan saduran singkat kami dari artikel karya Rosemary Bray McNatt, An urgent encounter with Islam.

Diterbitkan oleh

Prof. Idiot

M Shodiq (Musa Mustika), a national bestseller writer, a former lecturer of a well-known university in Indonesia.

Satu tanggapan untuk “Titik Temu antara Islam dan Universalisme Tauhid”

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s