Uniknya agama Universalisme Tauhid

Robert Fulghum
Robert Fulghum
Berikut ini bagian dari percakapan di sebuah toko [yang melibatkan seorang pemuka agama Universalisme Tauhid]:

“Pak Fulghum, benarkah Anda seorang pendeta?”

“Ya.”

“Di manakah gereja Anda?”

“Kita sedang berdiri di dalamnya.”

“Tapi ini toko buku dan sekarang hari Jumat.”

“Ya, tetapi bisa pula Anda menganggapnya sebagai katedral spirit manusia — sebuah rumah-toko pengabdian bagi semua pengalaman manusia yang beraneka-macam. Hampir semua gagasan hebat manusia ada di sini. Tempat yang mengandung pemikiran hebat merupakan tempat suci.”

“Oh, ya? Anda ini pendeta dari aliran agama apa?”

“Universalisme Tauhid (Unitarian Universalism).”

“Dan Anda mengadakan kebaktian di tokobuku-tokobuku pada hari Jumat?”

“Tepatnya bukan begitu. Akan saya beri contoh bagaimana orang-orang Universalis Tauhid (UT) berpikir. Lebih dari hal-hal lain, agama kami didefinisikan dengan sebuah sikap. Sebuah sudut pandang yang berpikiran-terbuka. Mengenai apa saja dan segala hal. Kesamaan kami yang paling utama adalah cara pandang yang tidak umum terhadap hal yang gamblang. [Diantaranya,] gereja [UT] bukanlah bangunan tertentu saja, melainkan juga cara pandang terhadap bangunan [toko buku] ini. Pendeta [UT] bukanlah sekadar orang yang berdiri di atas mimbar dan berkhotbah pada Minggu pagi, melainkan juga bagaimana sejumlah orang terlibat [dalam urusan] dunia. Agama [UT] tidak terkandung dalam sebuah buku tunggal; [dengan kata lain,] ada sesuatu yang religius di dalam hampir semua buku.”

“Oke, tetapi saya melihat ada bangunan di dekat tempat tinggal saya dengan tanda yang mengatakan ‘Gereja Universalis Tauhid’ dan ada banyak mobil yang diparkir di situ pada Minggu pagi. Kelihatannya itu seperti gereja [Kristen pada umumnya].”

“Tentu saja. Kami hadir bersama-sama dan melakukan banyak hal sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas religius lainnya — dan Minggu pagi merupakan sebuah waktu yang secara kultural paling pas untuk saling bertemu. Namun kami juga hadir bersama-sama di sepanjang hari [Minggu] itu [sampai sore atau malam hari].”

“Untuk melakukan apa?”

“Untuk saling bertukar pandangan, membahas aksi politik, mengerjakan proyek sosial untuk masyarakat di lingkungan kami, dan menyimak pidato-pidato mengenai beraneka-ragam topik. Kami menyukai dan membutuhkan persahabatan dengan orang-orang yang gemar berpikir.”

“Pak Fulghum, saya sudah membaca semua buku [karya] Anda. Apakah tulisan Anda [di buku-buku tersebut] merupakan sampel dari kepercayaan orang-orang Universalis Tauhid?”

“Ya dan tidak. Saya menduga dan mengharap bahwa tidak semua pikiran dan tulisan saya disetujui oleh orang-orang Universalis Tauhid.”

“Maksud Anda, tidak ada dogma?”

“Ya dan tidak. Kami sepakat bahwa individu-individu harus menyusun simpulan keagamaanya sendiri-sendiri. Kami sepakat bahwa kami akan tidak setuju terhadap simpulan-simpulan tersebut. Kami sepakat belajar dari satu sama lain melalui dialog mengenai keimanan-keimanan kami. Kami sepakat mengenai suatu proses [religius] dan perangkat-perangkat yang dipakai dalam proses tersebut.”

“Berilah saya beberapa contoh dari perangkat-perangkat tersebut.”

“Contohnya: prinsip-prinsip demokrasi, integritas, pendidikan yang berkelanjutan, dan tanggung jawab individu.”

“Bagi saya, itu kedengarannya seperti [jaringan radio] NPR dan [jaringan televisi] PBS.”

“Sebenarnya, analogi [Anda] tersebut tidak menyimpang jauh. Televisi dan radio siaran merupakan contoh yang bagus mengenai hal-hal yang didukung oleh orang-orang Universalis Tauhid. Kami ingin informasi mengenai kami dan sudut pandang kami tersiar seluas-luasnya. Kami ingin setiap individu memiliki pengaruh terhadap pemrograman [siaran], dan kami ingin setiap individu bertanggung jawab atas kelangsungan program siaran itu. Mengurus radio atau pun komunitas religius itu tidak mudah, tetapi inilah jalan yang kami pilih.”

“Jadi, kalau saya berpikiran-terbuka dan menyimak [acara radio] NPR dan menonton [acara televisi] PBS, maka saya tergolong Universalis Tauhid?”

“Mungkin saja Anda memiliki kecenderungan Universalis Tauhid (UT). Akan tetapi, terdapat orang-orang UT yang hanya menyimak musik jazz atau country atau opera, atau yang hanya menonton sepakbola di TV. Saya nyatakan lagi, kami menghargai keanekaragaman dalam segala hal.”

“Bagaimana dengan politik?”

“Itu pun bukan pengecualian. Di kalangan kami ada orang Demokrat, Republikan, Libertarian, Sosialis, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kami hanya sama-sama berpendirian bahwa kita harus aktif dalam urusan-urusan dunia. Kami tidak mengharuskan partai politik tertentu untuk digabungi.”

“Apakah orang-orang Universalis Tauhid itu merupakan orang Kristen?”

“Sekali lagi, ya dan tidak. Sebagian [kecil] orang Kristen, sebagian [besar] bukan orang Kristen, sebagian [lainnya] belum memutuskan. Begitu pula jawabannya bila Anda bertanya apakah orang-orang Universalis Tauhid itu merupakan orang Buddha. Pada kenyataannya, sebagian hampir semua pertanyaan spefisik yang bisa Anda tanyakan ini memiliki jawaban begini: ‘Ya dan tidak. Sebagian ya, sebagian tidak.’ Kami dikenal lantaran menghargai keanekaragaman pendapat dan keimanan.”

“Saya ingin melihat-lihat gereja yang seperti itu, tetapi saya tidak ingin tercatat dalam daftar ‘dakwah’ (pekabaran) Anda.”

“Tidak apa-apa. Kami tidak menyebarkan agama. Kami [hanya] membuka pintu bagi orang-orang yang mencari kumpulan orang yang seperti kami. Kami dapati, ada sangat banyak orang yang [sebenarnya] merupakan orang Universalis Tauhid (UT) tanpa menyadarinya. Bila kami tanyai orang-orang UT mengenai bagaimana mereka menjadi anggota kami, sebagian besar menyatakan bahwa itu karena mereka mencari komunitas orang-orang yang merdeka dalam hal nilai-nilai religius dan aktif dalam komitmen mereka terhadap kebaktian komunitas. Kami meyakini hak individu untuk memilih prinsip-prinsip religius dan meyakini bahwa individu tersebut bertanggung jawab untuk mempraktekkan prinsip-prinsipnya itu.”

“Saya ingin tahu lebih banyak.”


Yang baru saja Anda baca [di atas] itu merupakan rekonstruksi dari sebuah percakapan canggung yang sering saya alami. Meringkas keimanan seseorang dalam beberapa detik saja itu sulit — keimanan itu merupakan hasil dari pengalaman sepanjang hayat. Sulit pula menyampaikan sudut pandang historis yang singkat perihal Universalisme Tauhid (UT) karena ini juga panjang, mendalam, dan mencakup banyak hal. Jika Anda ingin memperoleh jawaban-jawaban yang lebih baik terhadap pertanyaan-pertanyaan Anda mengenai keimanan pilihan kami, bacalah lebih lanjut di buku [A Chosen Faith] ini. Kalau Anda sungguh ingin tahu siapakah orang UT itu, kunjungilah kami dan lihatlah apa yang kami sikapi dan kami perbuat — siapa tahu, Anda ternyata merupakan salah seorang dari penganut agama UT.

————
Terjemahan oleh M Shodiq Mustika dari Robert Fulghum, “Foreword” dalam John A. Buehrens & Forrest Church, A Chosen Faith: An Introduction to Unitarian Universalism (Beacon Press; Revised edition (June 1, 1998)), hlm. ix-xiii.

Diterbitkan oleh

Prof. Idiot

M Shodiq (Musa Mustika), a national bestseller writer, a former lecturer of a well-known university in Indonesia.

14 tanggapan untuk “Uniknya agama Universalisme Tauhid”

  1. Assalamualaikum, Saya juga seorang UU (UT), yang juga menanyakan, apakah ada perkumpulan UT di indonesia?

  2. ini bukan kepercayaan unitarian hanya organisasi “Tidak apa-apa. Kami tidak menyebarkan agama. Kami [hanya] membuka pintu bagi orang-orang yang mencari kumpulan orang yang seperti kami. Kami dapati, ada sangat banyak orang yang [sebenarnya] merupakan orang Universalis Tauhid (UT) tanpa menyadarinya

    jadi ini cuma kumpulan universlist yg bilang gak masuk akal ORANGF TOLOL

  3. @TELOR AYAM – lihatlah, betapa angkuh dan bodohnya anda terhadap kepintaran anda. salut, membaca satu artikel saja anda sudah bisa menyimpulkannya dengan jelas. satu artikel tidak cukup untuk menjelaskan apa itu Uniterian Universalist, anda butuh sekurangnya 5 kitab suci.

    1. Tidak sama.
      Perbedaannya:
      1) Pluralis cenderung mencari kesamaan pandangan antara berbagai isme, Universalis lebih sering memaklumi perbedaan sudut pandang antar-individu.
      2) Liberalis cenderung mendorong kebebasan individual (yang dibatasi oleh kebebasan individu lain), Universalis lebih suka memperjuangkan keselamatan universal.

  4. Ijin komen ya.. dan menurut pandangan saya ini bukan agama semacam perkumpulan orang2 berpikiran terbuka🙂. Din (agama) islam (salam/selamat/keselamatan) di dunia agama cuma. Agama pada dasarnya kebutuhan manusia, manusia percaya akan adanya Tuhan YME sang pencipta ingin menyembah bertauhid. Jd agama dan bertauhid kebutuhan dasar manusia. Tuhan mengirim para nabi dan rasul untuk meluruskan mengajar kan cara bertauhid yang benar yang d sukai oleh Nya. Sebagaimana kita ketahui manusia ada yang menyembah batu gunung pohon bulan matahari. Dan ajaran para nabi itu agama itu adalah Tauhid dr jaman nabi Adam as sampai Muhammad SAW yang d ajarkan tauhid..pada masa nabi Muhammad kemudian ajaran tauhid di sebut Din Islam (agama keselamatan)

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s