Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani

Belajar dengan Hati Nurani — Sophia Lyon Fahs

Sophia Lyon Fahs
Sophia Lyon Fahs

oleh Polly Peterson

“Mama, Mama, kapan kita sampai di tujuan?” tanya Sophia kecil. Bersama dengan keluarganya, ia melintasi luasnya Samudera Pasifik di atas sebuah kapal besar yang berlayar ke Amerika. Sophia Lyon, si gadis Amerika yang saat itu berumur tiga setengah tahun, menempuh perjalanan ke Amerika untuk pertama kalinya. Ia dan kakak-kakaknya lahir di China, tempat yang di situlah ayah mereka menjadi pendeta Kristen evangelis dan ibu mereka menjadi pendiri sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan China.

Ketika mereka menempuh perjalanan panjang ke Amerika pada tahun 1880 itu, kedua orangtua Sophia berpikiran bahwa keluarga mereka akan kembali ke China setelah satu tahun. Namun rencana ini berubah, dan Sophia tak pernah kembali ke China. Ketika ia sudah besar, ingatannya tentang China sangat sedikit. Namun ia berharap bahwa bila ia sudah dewasa, ia bisa pergi ke negeri-negeri lain sebagai seorang guru Kristen, seperti kedua orangtuanya.

Di perguruan tinggi, Sophia bergabung dengan sebuah klub orang-orang muda yang juga ingin menjadi guru Kristen. Ia bertemu dengan seorang sukarelawan lain yang bernama Harvey Fahs. Mereka mulai menulis surat satu sama lain, dan membuat rencana untuk melakukan perjalanan dan mengajar bersama-sama. Enam tahun kemudian, mereka menikah. Namun bukannya pergi ke negeri lain, Sophia dan Harvey berpindah ke New Yor City. Harvey mendapatkan pekerjaan, sedangkan Sophia Lyon Fahs mengajar sekolah Minggu dan meneruskan studinya dengan bergairah lantaran pandangan-pandangan baru yang dia pelajari.

Anak pertama Sophia dan Harvey lahir pada tahun 1904. Pada masa itu, banyak wanita melepas pekerjaan di luar rumah mereka sesudah mereka menjadi ibu. Namun Sophia diminta untuk terus belajar dan mengajar sekolah Minggu, dan ia pun melakukannya. Dalam keadaan ini, menjadi ibu itu pun merupakan media belajar! Ia belajar mengenai anak-anak dari kebersamaan dengan anak-anaknya sendiri dan menyimak pertanyaan dan pandangan mereka.

(Anda bisa berhenti sejenak di sini dan meminta tanggapan anak-anak mengenai bagaimana anak-anak dapat mengajar orang dewasa.)

Ketika anak-anaknya mengajukan pertanyaan, Sophia berusaha menjawabnya sebaik-baiknya. Anak-anaknya suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat menarik, seperti “Dari manakah salju berasal?” dan “Di manakah kita sebelum kita lahir?” Saat berusaha menjawab pertanyaan anak-anaknya, Sophia menjadi sadar betapa banyak yang tidak dia ketahui! Mungkin Anda menyangka bahwa ketidaktahuannya itu melunturkan iman Sophia, tetapi sebaliknyalah yang terjadi. Ia mulai yakin bahwa untuk memiliki iman yang kuat, menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang Anda perhatikan sungguh-sungguh itu sama pentingnya dengan mendapatkan jawaban-jawaban.

Suatu hari, ketika Sophia mengajar pendidikan agama di kelas, ia menceritakan kisah nyata mengenai seorang guru Kristen di sebuah negeri lain. Murid-murid ingin sekali mendengar kisah tersebut dan membicarakannya. Seperti anak-anaknya sendiri di rumah, murid-murid mengajukan pertanyaan-pertanyaan — jenis pertanyaan menarik yang memungkinkan Sophia tahu bagaimana mereka berpikir dan belajar.

From Long Ago and Many Lands: Stories for Children Told AnewPandangan Sophia mengenai agama telah berubah dengan berlalunya waktu. Sewaktu muda, ia diajar bahwa Kekristenan merupakan satu-satunya agama yang benar dan orang-orang di seluruh dunia seharusnya mempelajari kisah-kisah dalam Alkitab. Namun Sophia kemudian menyadari bahwa Alkitab bukanlah satu-satunya buku yang mengandung kebenaran. Ia menghimpun kisah-kisah dari seluruh dunia, yang mengandung kebenaran dan keindahan untuk mendorong perkembangan spiritual anak-anak. Ia menerbitkan kisah-kisah tersebut dalam sejilid buku yang berjudul From Long Ago and Many Lands.

Pada masa itu, hampir semua orang dewasa berpikiran bahwa benak anak-anak itu seperti kendi kosong yang perlu diisi dengan pelajaran, tetapi Sophia berpikiran lain. Ia berpikiran bahwa anak-anak itu seperti taman yang telah ditanami dengan biji-biji yang memungkinkan mereka untuk tumbuh dan belajar. Ia berpikiran bahwa tugas guru adalah menyediakan tanah yang subur dan air secukupnya beserta sinar matahari yang dibutuhkan oleh taman tersebut untuk tumbuh. Di sekolah agama, guru itu dapat membantu anak-anak untuk menumbuhkan keimanan dan spirit mereka.

(Pertanyaan: Apa yang menurut Anda dapat membantu anak menumbuhkan spiritnya? Apa yang seharusnya diajarkan oleh sekolah agama untuk membantu Anda tumbuh?

Saran: Untuk murid, guru dapat menyediakan tempat yang aman untuk belajar beserta peralatannya, seperti buku dan alat peraga. Kami dapat menunjukkan kepada Anda bagaimana orang-orang dewasa beribadah, menyanyikan [lagu religius], dan merayakan [hari raya] bersama-sama dalam keimanan. Kami bisa membantu Anda mengetahui perbuatan-perbuatan yang religius demi kebaikan dan keadilan. Kami dapat membawa anda mengikuti kunjungan di lapangan (field trip) dan menceritakan kisah-kisah kepada Anda. Namun, tak seorang pun bisa memberi Anda kebijaksanaan atau keimanan atau perkembangan spiritual. Ketiga hal ini hanya bisa tumbuh dari dalam Anda sendiri. Anda belajar dengan mengalami dunia Anda sendiri — dengan merasakan perasaan Anda sendiri, dan dengan menyaksikan dan melakukannya [sendiri]. Begitulah yang diyakini oleh Sophia Fahs.)

Melihat tulisan Sophia mengenai keyakinannya itu, presiden American Unitarian Association terkesan. Ia mempersilakan dia untuk berbicara dengan guru-guru agama Unitarian. Guru-guru sekolah Minggu Unitarian sangat menyukai pandangannya. Dan itulah sebabnya, bila Anda datang kemari [yakni ke komunitas Universalisme Tauhid], kami dorong Anda untuk menyaksikan sendiri dan… mengajukan banyak pertanyaan.

Menginjak umur 82 tahun, Sophia menjadi “pendeta” (pemuka agama) Unitarian. Kehidupannya sendiri merupakan teladan yang hebat mengenai keyakinannya bahwa setiap orang di dalam komunitas religius seharusnya terus-menerus belajar dan berkembang, dari anak terkecil hingga orang tertua. Sophia Fahs berumur panjang — 102 tahun — dan ia tidak pernah berhenti mempelajari hal-hal baru.

Seandainya ia hidup hari ini dan datang mengunjungi kita, Sophia mungkin ingin tahu mengenai pengalaman [religius] kita seperti yang tersaji di [program] Faithful Journeys, dan bagaimana [program] tersebut telah mendorong kita untuk belajar dan berkembang. Ia mungkin ingin tahu kisah-kisah apa yang telah kita baca dan bagaimana kisah-kisah tersebut turut membangkitkan spirit kita. Ia mungkin ingin tahu bagaimana kita mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, dan belajar satu sama lain. Bayangkanlah betapa bahagianya dia menyaksikan kita saling mengairi biji-biji perkembangan spiritual kita di [program] Faithful Journeys sekarang.

————
Tulisan di atas merupakan terjemahan dari Polly Peterson, “Learning By Heart — Sophia Lyon Fahs“. Penerjemah: M Shodiq Mustika.

Diterbitkan oleh

Prof. Idiot

M Shodiq (Musa Mustika), a national bestseller writer, a former lecturer of a well-known university in Indonesia.

7 tanggapan untuk “Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani”

  1. Orang beragama digiring secara sistimatis dan terstruktur untuk memeluk entitas , esensi dan eksistensi lembaga agama , lalu melekat lengket dan justru terbelenggu kedalamnya ,…………
    Agama sesungguhnya adalah , cara atau jalan untuk memahami nilai-nilai Ke Ilahi an ,
    tanpa meninggalkan realita Ke Manusia an ,
    berlandaskan Ke Mandiri an
    Spritual , Emosional dan Intelektual.
    Maaf ,
    orang tidak perlu jauh-jauh berkelana mencari agama yang benar
    karena agama yang benar justru
    telah melekat bersama entitas , esensi dan eksistensi orang itu sendiri , terpendam jauh dilubuk nurani , mengintip dari celah mata-batin dan berekpresi melalui talenta.
    Itu adalah panduan , maaf.

  2. Banyak orang mengatakan telah beragama dengan benar tetapi melupakan dan tidak memperhatikan hukum-hukum dan aturan yang ada di bumi alam semesta dan kehidupannya. Padahal tanpa memperhatikan hal itu bisa saja orang berbuat kerusakan di bumi alam semesta dan kehidupannya karena ia tidak tahu hukum-hukum dan aturan yang berlaku padanya. Oleh karena itulah bumi alam semesta dan kehidupannya semakin rusak walaupun jumlah orang yang beribadah semakin tambah banyak, sebab bagi mereka ibadah itu hanyalah hal-hal yang bersifat ritual.

  3. Kalau anda ingin menemukan agama yang benar itu jawabannya adalah kontekstual zaman. Semua agama yang diturunkan oleh Tuhan itu semuanya benar pada zamannya masing-masing. Oleh karena itu tidak pernah terjadi setiap agama itu itu waktunya turun secara serentak. Silakan para pemikir lebih merenungkan kembali kepada siapa dan di mana agama pada abad terakhir diturunkan? Apakah Kristen, Islam, atau Baha’i? Semuanya belum tentu….Tapi pasti telah ada agama yang diturunkan oleh Tuhan pada abad ini…

  4. Semoga kita selalu mendapat petunjuk jalan yg lurus( kebenaran)
    Untuk memahami agama yg benar minimal agama itu menjelaskan kita harus mengetahui sifat Tuhan yaitu :
    *Tuhan itu Esa dalam arti yg sebenar benarnya Esa
    *Tuhan itu berbeda bentuknya dg makhluk baik zat maupun unsurnya.

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s