Soal Jawab 11: Kebaktian di Komunitas Universalis Tauhid

Seperti apakah kebaktian mingguan gereja/persekutuan/komunitas Universalis Tauhid (UT)?

Kebaktian UT pada umumnya mengikuti struktur Protestan: himne, pembacaan, meditasi, bernyanyi dengan paduan suara, musik organ, dan khotbah. Namun meskipun bentuk kebaktian ini mirip dengan kebaktian gereja Protestan, isinya sangat berbeda. Nama Tuhan atau Yesus hampir tak pernah diucapkan, pembacaan Alkitab pun jarang. Meskipun kata-kata sebelum meditasi mungkin kedengarannya seperti doa, kata-kata tersebut tidak harus ditujukan kepada sesuatu yang supernatural dan tidak harus berupa permohonan dukungan, inspirasi, bantuan, atau pun restu kepada-Nya.

Simbol-simbol apa yang terpampang di berbagai gereja/persekutuan/komunitas UT?

Di dekat altar kebanyakan “gereja” UT, biasanya Anda takkan menjumpai simbol-simbol. Namun, di gereja-gereja yang memilih untuk tetap memakai identitas Kristen liberal, bisa Anda jumpai salib, Alkitab terbuka, atau beberapa simbol Kristen lainnya. Sebagian “gereja” UT memajang simbol Kristen hanya untuk tujuan historis.

“Gereja-gereja” UT lainnya, dengan menunjukkan keimanan mereka bahwa ada hikmah/kebijaksanaan di setiap agama dunia, memasang simbol-simbol dari banyak keimanan: Kristen, Yahudi, Islam, Timur, Amerika Pribumi, dan lain-lain.

Tidak ada aturan yang digariskan oleh Asosiasi Universalis Tauhid berkenaan dengan simbol religius manakah yang tepat; keputusannya berada di jemaat setempat.

Apa makna [simbol] “piala menyala”?

Pada masa menjelang Perang Dunia II, Komite Kebaktian Unitarian yang berbasis di Boston berusaha menyelamatkan orang-orang Unitarian dan kaum religius liberal lainnya dari Eropa (terutama CekoSlowakia) yang kehidupannya terancam oleh Nazi. “Piala menyala” merupakan kode yang digunakan oleh mereka yang perlu diselamatkan itu sebagai indentifikasi diri mereka terhadap Komite Kebaktian Unitarian tersebut.

Simbol ini, yang meluas penggunaannya dalam kebaktian-kebaktian Minggu pada 20 tahun terakhir, biasanya dinyalakan pada awal kebaktian, disertai dengan ritual ucapan yang sederhana.

Sekarang, dalam kebaktian-kebaktian UT, piala itu melambangkan hikmah/kebijaksanaan, pengetahuan, dan wawasan spiritual, sedangkan nyala yang muncul dari piala itu melambangkan cahaya penerangan dan pemahaman.

Bagaimana dengan Komuni Bunga?

Banyak jemaat UT menjalankan ritual sederhana ini pada akhir musim semi. Pada kebaktian Minggu Bunga, setiap orang membawa sekuntum bunga dan menempatkannya di sebuah keranjang besar yang sama. Pada akhir kebaktian ini, berjalan di dekat keranjang tersebut dan mengambil sekuntum bunga.

Keragaman bunga itu melambangkan keragaman orang, keragaman kepercayaan, dan keragaman pandangan yang terdapat dalam jemaat itu. Perbuatan membawa bunga itu melambangkan gagasan bahwa setiap orang membawa sesuatu dari dirinya sendiri dan menyumbangkannya untuk kebaktian/pengabdian. Adapun pengambilan bunga melambangkan bahwa setiap orang mengambil sesuatu yang disumbangkan oleh orang lain.

Sebagaimana “piala menyala”, ritual kebaktian ini juga berasal dari CekoSlowakia sebelum Perang Dunia II. Yang mempeloporinya ialah Norbet Kapek, pendeta Ceko di Praha [ibukota Ceko], yang merupakan pendeta dari jemaat Universalis terbesar sedunia pada tahun 1920-an dan 1930-an. Beliau ditangkap oleh Nazi dan dieksekusi di kamp konsenttrasi Dachau. Istri beliau, Maya, yang melarikan diri ke Amerika dengan bantuan Komite Kebaktian Unitarian Boston, memperkenalkan Komuni Bunga kepada jemaat-jemaat di Amerika Serikat dan Kanada.

Ritual di “gereja” UT itu seberapa luas?

Sekte Tauhid (Unitarian) dan sekte Universalis muncul dari sayap gereja kiri radikal Reformasi Protestan yang mencurigai segala jenis peribadatan dan ritual keagamaan. Dengan masih membawa beberapa kecurigaan semacam itu, kita menjauhi upacara penghafalan yang tak terpahami maknanya. Kita pun menjauhi ritual yang semata-mata merupakan tradisi tanpa makna. Namun kemudian, meskipun berbagai ritual dan simbol yang kita pakai itu kita jadikan bermakna, kita tidak mau ini berakhir begitu saja. [Dengan kata lain, kita tidak mau menjadikannya sebagai doktrin.]

Mengapa sejumlah orang mengatakan bahwa menyimak khotbah “pendeta” UT itu sangat mirip dengan mendengar ceramah kuliah di perguruan tinggi?

Karena agama UT bersifat agak intelektual, para pemuka agama UT sering berbicara tentang persoalan kontemporer yang mungkin sangat menarik bagi kebanyakan orang dewasa.

————
100 Soal-Jawab Mendasar perihal “Agama” (sistem kepercayaan) Universalisme Tauhid
© 1994-2000 by the Unitarian-Universalist Church of Nashua, New Hampshire
Indonesian Translation Copyright © 2010 by M Shodiq Mustika
All rights reserved

Diterbitkan oleh

Prof. Idiot

M Shodiq (Musa Mustika), a national bestseller writer, a former lecturer of a well-known university in Indonesia.

Satu tanggapan untuk “Soal Jawab 11: Kebaktian di Komunitas Universalis Tauhid”

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s