Soal-Jawab 7: Tradisi Religius

Apakah upacara merupakan bagian dari tradisi [religius] Anda?

Kelahiran, pernikahan, kematian–kami menandai peristiwa-peristiwa ini dengan upacara [kebaktian]. Namun, upacara-upacara ini bukanlah ritual sakramen. Sang pendeta/imam menyesuaikan setiap kebaktian itu secara pribadi dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya, sehingga upacara tersebut tepat terutama bagi mereka.

Apakah ada tradisi upacara pembaptisan?

[Di banyak komunitas Universalisme Tauhid (UT)], ada upacara Dedikasi dan Pemberian Nama [anak] yang dilakukan pada umur yang sama dengan di agama lain yang melakukan pembaptisan. Dalam upacara ini, orangtua dan wali berjanji menyediakan bagi si anak suatu asuhan yang sehat–secara fisik, emosi, mental, dan spiritual. Air seringkali digunakan (beberapa tetes di kepala anak) sebagai simbol pembaharuan dan regenerasi kehidupan melalui anak tersebut.

Adakah upacara pelantikan agama baru?

Tipe upacara ini berlainan menurut komunitas masing-masing; tidak ada upacara pelantikan yang didukung secara resmi. Dua atau tiga kali per tahun, banyak jemaat UT menyelenggarakan upacara informal sebagai bagian dari kebaktian Minggu. Di sini, anggota-anggota baru itu disambut secara resmi oleh komunitasnya.

Apakah orang-orang UT merayakan Natal dan Paskah?

Ya, sebagian besar [orang UT di Amerika Utara] merayakan hari-hari raya tersebut. Perbedaannya mungkin adalah bahwa kami mengaitkannya dengan perubahan musim, bukan dengan tema-tema tradisional Kristen. Bagi kami, hari-hari raya tersebut dihargai sebagai perayaan titik-balik matahari musim-dingin dan perayaan equinox musim-semi–harapan dan tekad disimbolkan dengan lamanya siang hari pada bulan Desember, dan pembaharuan kehidupan di musim semi seusai musim dingin yang gelap.

Catatan-catatan tradisional mengenai kelahiran Yesus dan Kebangkitan Kembali kadang-kadang dimasukkan dalam perayaan-perayaan tersebut dan dikutip sebagai mitos yang mengandung pesan positif mengenai kehidupan manusia. Kelahiran anak, misalnya, melambangkan harapan dan tekad yang terdapat dalam setiap kehidupan baru. Penyaliban dan Kebangkitan Kembali Yesus merupakan simbol mengenai betapa kehidupan-baru itu dapat muncul pula seusai masa penderitaan. Sebagaimana terhadap Alkitab itu sendiri, kisah-kisah tersebut tidak diambil secara harfiah, tetapi yang secara simbolis memberi tahu kita mengenai kehidupan manusia.

Kami merayakan Paskah sebagai kembalinya musim semi dan sebagai pembaharuan kehidupan; dalam hal ini, kami cenderung lebih dekat dengan tradisi pagan daripada dengan tradisi Kristiani. Catatan-catatan dari Perjanjian Baru mengenai Kebangkitan Kembali Yesus bisa dikutipp sebagai simbol kekuatan, daya, dan pembaharuan kehidupan. Kami tidak menerima gagasan mengenai kebangkitan kembali secara fisik.

Sebagian besar orang UT menganggap Yesus sebagai salah satu dari sejumlah guru kemanusiaan yang berbakat dan berwawasan luas. Para tokoh tersebut muncul di sepanjang sejarah untuk mengajarkan kepada kita bagaimana kita seharusnya hidup dan berdamai dengan diri sendiri dan dengan orang lain. Yesus tidak dianggap unik dalam hal ini.

Wafatnya beliau menunjukkan akhir kehidupan yang tragis dan menyakitkan. Karena orang-orang UT sudah lama menolak ide Dosa Asal, kepercayaan bahwa Yesus menebus dosa orang-orang sedunia dengan kematiannya kurang relevan dengan kami. Bahkan pemeluk agama UT yang sekaligus memeluk agama Kristen pun menolak doktrin penebusan dosa tersebut.

Apakah Anda menerima tradisi kremasi (pembakaran mayat)?

Kami memandang kremasi sebagai suatu bentuk penguburan yang bisa diterima. Tradisi ini dipilih oleh banyak orang UT.

Apakah Anda berdoa sewaktu kebaktian ini; dan kalau iya, kepada siapa?

Ini berlainan menurut komunitas masing-masing. Sebagian besar kebaktian Minggu menyediakan waktu untuk meditasi, seringkali didahului dengan ceramah dari pendeta/imam. Dalam jemaat teistik, doa-doa ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa; dalam komunitas humanis, doa-doa itu berbentuk renungan dan meditasi pribadi.

Apakah orang-orang UT berdoa di rumah?

Ini sepenuhnya terserah kepada individu. Meskipun kebanyakan orang UT mencari jalan untuk membudidayakan kehidupan spiritualnya, sedikit saja orang UT yang memperlakukan doa sebagai hubungan pribadi dengan Sang Mahakuasa.

Bagi kebanyakan orang UT, doa merupakan cara untuk bersentuhan dengan diri sendiri.

Apakah orang-orang UT ikut serta dalam sakramen dan ritual-ritual yang tatacaranya telah ditentukan [secara ketat] seperti Makan Malam Suci, Pengesahan, Pengakuan, dan Makan Malam Terakhir?

Tidak. Walaupun kita menyelenggarakan upacara-upacara sesuai dengan peristiwa-peristiwa penting, kami tidak menganggapnya sebagai sakramen.

————
100 Soal-Jawab Mendasar perihal “Agama” (sistem kepercayaan) Universalisme Tauhid
© 1994-2000 by the Unitarian-Universalist Church of Nashua, New Hampshire
Indonesian Translation Copyright © 2010 by M Shodiq Mustika
All rights reserved

Diterbitkan oleh

Prof. Idiot

M Shodiq (Musa Mustika), a national bestseller writer, a former lecturer of a well-known university in Indonesia.

Satu tanggapan untuk “Soal-Jawab 7: Tradisi Religius”

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s