Untuk apa kita bicarakan agama damai & agama kekerasan?
oleh Jeff Wilson
Ellawala Medhananda yang terhormat, seorang pendeta Buddha Srilanka terkenal, berkata dengan terus terang. Saat berbicara dengan Reuters pada Februari [2006], ia nyatakan: “Kalau Prabhakaran tewas, Sri Lanka menjadi tempat yang lebih baik. Ia menghambat proses perdamaian. Kita seharusnya mencampakkan pengaruhnya dari masyarakat.”
Medhananda, pemimpin partai politik Buddhis nasionalis, menyerukan pembunuhan terhadap Velupillai Prabhakaran, seorang pemicu utama konflik etnik dan keagamaan yang telah menewaskan lebih dari 60.000 orang di Sri Lanka. Menurut sejumlah orang, Prabhakaran ialah seorang teroris Hindu yang mengancam demokrasi Sri Lanka; namun menurut sejumlah orang lainnya, dia seorang pejuang kemerdekaan yang berupaya mencapai keadilan untuk kaum minoritas Tamil yang tertindas. Sementara itu, dengan adanya [ancaman] pembunuhan dari kalangan muslim [terhadap orang-orang yang harus bertanggung jawab atas] kartun [yang dipandang melecehkan Nabi Muhammad], sekarang mungkin saat yang tepat untuk merenungkan “debat kusir” seputar kekerasan dan agama di dunia modern.
Agama Buddha seringkali dianggap sebagai “agama damai” oleh orang-orang Amerika Serikat; dan persepsi ini terutama terdapat di kalangan liberal religius. Di abad ke-19, kaum Unitarian membawa pengetahuan tentang Buddhisme ke Barat, dan minat terhadap agama ini banyak yang berasal dari persepsi bahwa Buddhisme menawarkan suatu pendekatan yang rasional, penuh kedamaian, dan pragmatis terhadap agama—bertolak belakang dengan persepsi mereka terhadap agama Kristen. Bahkan pihak-pihak yang berseberangan dengan Buddhisme mengungkapkan kekaguman mereka terhadap karakter Buddha, yang komitmennya terhadap prinsip-prinsip moral dan integritas pribadinya terkesan menyerupai Unitarian, Protestan, dan Katolik Roma. Belakangan, sikap-sikap tersebut berperan penting dalam memasukkan banyak orang Amerika keturunan Eropa dan Afrika ke dalam agama Buddha pada paruh terakhir abad ke-20. Dan antara lain karena itulah, agama Buddha di Amerika seringkali beroperasi sebagai agama yang liberal.
Meskipun sejarah agama Buddha kurang diperiksa bila dibandingkan dengan Kristen atau Islam, ada banyak noda Buddhisme yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang Barat. Diantaranya, pendeta-pendeta Buddha dijadikan barisan bersenjata di hampir semua negara Buddhis. Di beberapa tempat, ada kalanya pendeta-pendeta itu menjadi tentara: Mereka bertempur dengan sekte-sekte rival, dengan didukung oleh tokoh-tokoh politik tertentu, atau memaksakan kesetiaan bagai budak. Buddhisme digunakan untuk mengesahkan imperialisme Jepang sebelum dan selama Perang Dunia II, sedangkan pendeta-pendeta Buddha mendoakan kematian Presiden [Amerika Serikat} Franklin D. Roosevelt. Sebuah legenda mengklaim bahwa pada masa kehidupan sebelumnya, Sang Buddha lebih dulu membunuh seorang pria untuk mencegah dia dari membunuh 500 orang lain. “Lereng licin”-nya adalah bahwa tidak sedikit orang Buddha yang menggunakan logika tersebut untuk mencapai tujuan mereka sendiri. [Contohnya, lihat pernyataan Medhananda di atas.]
Jadi, apakah Buddhisme “agama tanpa kekerasan” ataukah “agama perang”? Bagaimana dengan Islam? Apakah Islam “agama damai” seperti yang ditegaskan oleh Presiden George W. Bush? Ataukah Islam “agama kekerasan” sebagaiman dinyatakan oleh Pat Robertson dan banyak orang lain gara-gara kejadian 11 September? Dan bagaimana dengan Kristen, yang memberi kita seorang Yesus yang memberkahi para pencipta perdamaian dan seorang Yesus yang datang dengan sebilah pedang—yang keduanya memiliki pengikut yang seimbang?
—
Tidak ada satu pun orang religius yang bukan bagian dari suatu budaya, kelompok etnis, dan kelas sosial, dan yang tidak dipengaruhi oleh situasi politik masyarakatnya. Begitu kita akui kebenaran yang tak terbantah ini, kita bisa mulai memahami mengapa seruan religius demi perdamaian atau pun demi kekerasan tidak pernah sesederhana [ungkapan] “agama saya penuh kedamaian” atau “agama mereka penuh kekerasan”. Protes-protes terhadap kartun yang melecehkan Nabi Muhammad itu banyak terkait dengan keluhan-keluhan historis terhadap imperialisme Eropa dan Amerika di wilayah-wilayah muslim sebagaimana kepedulian religius mereka terhadap pengidolaan.
Lagi pula, tidak ada agama yang mendatangi kita yang tidak terkondisikan oleh masa lalunya. Dengan menjadi bagian dari dunia manusia yang tidak sempurna, tidak ada agama yang bisa eksis dalam waktu yang lama tanpa sejumlah perlawanan dan konflik. Hal ini berlaku bagi agama Buddha atau pun agama-agama lainnya, dengan contoh utama perang saudara yang bercorak keagamaan di Sri Lanka pascakolonial [sebagaimana dipaparkan di atas].
Akan tetapi, ini bukan berarti bahwa agama kekerasan “hanyalah” mengenai budaya dan politik. Namun, orang-orang religius selalu memiliki kesetiaan kultural dan politis yang mempengaruhi tanggapan religius mereka. Dan ketika orang-orang itu merasa terancam atau terhina, tidak ada atau hampir tidak ada agama yang kekurangan unsur yang bisa digunakan untuk mengesahkan kekerasan, baik secara defensif maupun ofensif.
Kekeliruan upaya klasifikasi “agama damai” dan “agama kekerasan” itu pada umumnya berasal dari upaya untuk menemukan jurubicara yang mewakili suatu agama secara menyeluruh atau membayangkan bahwa agama-agama itu merupakan benda-benda yang tunggal. Di Barat, agama Buddha dan Islam merupakan keimanan yang relatif kurang dikenal, dan banyak orang Barat yang masuk dalam perangkap pemikiran bahwa di luar sana ada sebuah entitas tunggal yang bernama “Islam” atau pun “Buddhisme”. Pada kenyataannya, ada banyak Buddhisme yang berlainan, Islam yang berlainan, Kristen yang berlainan. Ada Buddhisme yang sangat keras [di samping yang damai] dan ada pula Islam yang damai [di samping ada Islam yang sangat keras], sebagaimana ada Kristen yang militan di samping ada Kristen yang suka damai.
Manakah Buddhisme yang sebenarnya? Manakah Islam yang sebenarnya? Manakah Kristen yang sebenarnya? Tidak ada jawaban terhadap pertanyaan semacam itu tanpa mengacu pada preferensinya sendiri, komitmen teologisnya, dan prasangkanya—yang seringkali terkait dengan etnisitas, ras, kekayaan, atau faktor-faktor lain yang mempengaruhi sentimen religiusnya.
Apakah Universalisme Tauhid (UT) merupakan agama damai ataukah agama kekerasan? Jawaban pastinya sulit kita peroleh. Memang, jemaat-jemaat UT menegaskan dan menjunjung “tujuan komunitas dunia yang damai, merdeka, dan adil bagi semua.” Sejarah kita menunjukkan bahwa penegasan tujuan mulia itu tidak berarti bahwa kita semua sepakat mengenai bagaimana mencapainya.” Di Amerika Serikat, Unitarianisme menghasilkan banyak Menteri Perang, termasuk John C. Calhoun dan Alphonso Taft; yang lebih baru, dua dari Meneteri Pertahanan Clinton merupakan orang UT. Keimanan liberal kita juga menghasilkan tokoh-tokoh cinta damai seperti John Haynes Holmes, pendeta Unitarian yang menyatakan dengan terkenal pada malam menjelang masuknya Amerika ke dalam Perang Dunia I: “Jika perang itu benar, maka agama Kristen itu salah, sesat, dusta. Kalau Kekristenan benar, maka perang itu salah, sesat, dusta.”
Orang-orang Unitarian dan Universalis telah berpartisipasi dalam setiap peperangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat, sedangkan orang-orang UT lainnya telah memprotes dan menolak setiap perang. Adin Ballou, pendeta UT yang tulisan-tulisannya mempengaruhi Tolstoy, Gandhi, dan Marthin Luther King Jr., menulis:
Kita tidak bisa mengerahkan senjata atau pun kekerasan lahiriah lainnya untuk memaksa agen-agen moral berbuat benar atau pun untuk mencegah mereka berbuat salah—bahkan demikian pula untuk menyelamatkan kehidupan kita. Kita tidak dapat berbuat nista demi kenistaan … Kita tidak bisa [pula] berbuat nista yang mungkin menghasilkan kebaikan.
Jadi, barangkali ada orang-orang UT yang keras di samping ada orang-orang UT yang damai—dan ada banyak orang UT yang lebih cocok berada di kawasan abu-abu: yang haus akan perdamaian tetapi terpaksa berperang, atau yang tetap terbuka terhadap kemungkinan adanya kekerasan yang benar [dalam kondisi tertentu], tetapi jarang melakukannya karena jarang menjumpai kasus [yang memenuhi kondisi tersebut].
Semua agama mengandung benih-benih yang dapat mengarah pada perdamaian atau pun kekerasan, tergantung pada bagaimana kita membudidayakannya. …
[...] Sejauh ini, aku yakin bahwa semua ayat Alquran bisa kugunakan lagi sesuai dengan konteksnya masing-masing. (Yang melakukan dualisme tidak memperhatikan konteksnya.) Untuk contoh ayat-ayat perang atau kekerasan, ini merupakan perkara yang tidak sederhana. Dibutuhkan uraian yang panjang-lebar untuk mencari tahu konteks-konteksnya. Mudah-mudahan di kesempatan lain kita bisa membicarakannya. Untuk sekarang, silakan simak lebih dulu artikel “Manakah agama damai & agama kekerasan?“ [...]
Jelas sekali Jeff Wilson “menyamaratakan” antara apa yang dilakukan pengikut/umat dengan apa yang dilakukan pemimpin agamanya. Ini tidak obyektif dan adil. Bagaimana jikalau pengikutnya Jeff Wilson membunuh dan memperkosa, apakah UT jadi agama pembunuh dan pemerkosa?
Memang tidak dipungkiri, Kekristenan pernah mengalami masa-masa kegelapan. Justru karena Kekristenan berkompromi dengan dunia, dengan politik, ikut-ikutan masalah ekonomi dan lain-lain. Padahal jelas sekali Yesus mengatakan kerajaanNya bukan dari dunia.
Ayat2 kekerasan memang ada dalam Perjanjian Lama. Orang Kristen pernah menggunakan ayat-ayat tersebut untuk melakukan kekerasan. Yang sebenarnya salah karena Yesus telah menjelaskannya dengan mengatakan hal yang sebenarnya:
Matius 5:
(21) Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.(22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
(38) Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.(39) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
(43) Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.(44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Agree!
Salam Damai!
@ jephman & Maren Kitatau
Salah menurut Anda, belum tentu salah menurut orang lain.
semua agama sebenarnya mengajarkan baik, cuma ! cuma manusia nya aja yang bejat, orang hanya bisa menulis, membaca, berbicara belum tentu perbuatannya baik
Yes!
Salah dan benar adalah urusan edukasi
Kalah dan menang adalah urusan politik
Untung dan rugi adalah urusan ekonomi
Kemuliaan saja urusan agama
Salam Damai Kang Mus!
hee, manusia yg mengenall yang damaii, nice.
[...] Sejauh ini, aku yakin bahwa semua ayat Alquran bisa kugunakan lagi sesuai dengan konteksnya masing-masing. (Yang melakukan dualisme tidak memperhatikan konteksnya.) Untuk contoh ayat-ayat perang atau kekerasan, ini merupakan perkara yang tidak sederhana. Dibutuhkan uraian yang panjang-lebar untuk mencari tahu konteks-konteksnya. Mudah-mudahan di kesempatan lain kita bisa membicarakannya. Untuk sekarang, silakan simak lebih dulu artikel “Manakah agama damai & agama kekerasan?“ [...]
awal yahudi bagus banyak yang baik tapi setelah banyak jadi sepeti itu, awal nabi Isa bagus setelah banyak seperti sekarang ini, awal islam juga baik setelah banyak jadi seperti sekarang ini, kalo nanti universal banyak pengikutnya sama aja kaleeeeeeeeeeeee, jadi yang bermasalah adalah orang beragamanya bukan ajarannya, jadi pelajari ajarannya (belajar pada guru -guru yang sholeh dan dapat dipercaya- mintalah lah kepada tuhanmu dan bersihkanlah jiwamu), orang penganut atheispun bisa menjadi sangat kejam atau penganut apapun akan menjadi kejam tak terkecuali ajaran anda, karena anda mendikte orang bukan mempelajari ajaran tuhan, sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu. mudah-mudahan Allah mengampuni kita semua.
Matahari, bumi, bulan, dan bintang-bintang bergerak dan beredar mengikuti aturan. Air mengalir, angin bertiup, panas merambat, pepohonan tumbuh kesemuanya mengikuti aturan. Siapakah yang menciptakan aturan-aturan di alam tersebut ?. Adakah manusia yang menciptakannya ?, sebab manusia hanya membaca yang ada di alam semesta. Meskipun pembacaan manusia bisa salah, tetapi tanpa memperhatikan hal itu dan perintah-perintah agama agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi, maka manusia bisa menjadi perusak di muka bumi bukan pemakmurnya. Sayangnya kita semua kebanyakan ingin hidup se-enaknya sendiri tanpa memperhatikan aturan-aturan yang ada di bumi alam semesta dan kehidupannya.